Pasar Wisata Ramah Muslim Sangat Potensial di Indonesia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Wisata ramah muslim merupakan ceruk pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan peningkatan kualitas pelayanan bagi wisatawan muslim menjadi modal utamanya.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Rizky Handayani mengatakan, wisata ramah muslim merupakan ceruk pasar yang potensial, sehingga harus lebih mendapat perhatian dalam pengembangannya.

“Wisata ramah muslim ini memiliki peluang yang sangat besar. Ini pasar potensial untuk dikembangkan di Indonesia,” ujar Rizky, pada acara virtual wisata halal di Jakarta, Minggu (27/12/2020).

Menurutnya, salah satu cara untuk menangkap peluang tersebut adalah membangun sinergitas antar komponen penggerak, termasuk masyarakat di sekitar area wisata.

Tentunya dengan beberapa program strategis berupaya percepatan wisata ramah muslim yang harus dilakukan. Di antaranya, sebut dia, quality tourism, digitalisasi dan melakukan sertifikasi hotel.

Kemenparekraf menurutnya, memiliki strategi untuk melakukan pariwisata berkualitas (quality tourism). Strategi dalam artian untuk meningkatkan kualitas wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

“Sehingga spending wisatawan ke Indonesia menjadi lebih besar,” ujarnya.

Untuk mewujudkan semua itu, tentu menurutnya, Kemenparekraf juga berupaya meningkatkan kualitas dari destinasi wisata ramah muslim tersebut. Yakni dengan pendekatan kualitas lebih kepada segmented marketnya.

Lebih lanjut disampaikan, potensi wisata ini menunjukkan keaslian dan keunikan suatu daerah yang sangat diminati wisatawan ingin mempunyai pengalaman tentang kekayaan budaya dan keindahan alam.

Apalagi Indonesia sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia. Indonesia memiliki 17 ribu pulau dengan keanekaragaman budaya dan hayati sehingga perlu digali dan merealisasikan menjadi ceruk pasar wisata ramah muslim.

“Jadi, wisata ramah muslim ini ceruk bagi wisatawan muslim dengan layanan tambahan yang dibutuhkan mereka, yang tidak ada pada wisata konvensional,” imbuhnya.

Hal penting, menurutnya, bagaimana pengelola wisata ramah muslim memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan muslim yang datang. Sehingga mereka menjadi lebih nyaman.

Dia mencontohkan, layanan hotel yang merupakan sebuah entitas bisnis, tetap bisa menerima tamu-tamu muslim maupun non-muslim.

Namun menurutnya, dalam wisata ramah muslim, pelayanan hotel harus dapat mencegah hal-hal yang buruk terjadi, seperti portitusi atau kegiatan immoral lainnya.

“Jadi, bagaimana kita tetap menjaga ajaran Islam dalam aspek kehidupan, terutama dalam menjalankan atau mengelola wisata,” tutupnya.

Lihat juga...