Pedagang Pasar Wage Purwokerto Kembali Keluhkan Sepi Pembeli

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Para pedagang di Pasar Wage Purwokerto mengeluhkan sepinya pembeli. Kondisi tersebut sudah dialami para pedagang sejak sebulan lalu, sewaktu kasus Covid-19 meningkat tajam di wilayah Banyumas.

Pasar yang biasanya dipadati pembeli, sampai di dalam pasar juga terjadi kemacetan karena banyaknya kendaraan yang mengirim barang, sekarang terlihat lengang. Para pedagang hanya duduk-duduk menunggui barang dagangannya sambil mengobrol dengan sesama pedagang.

“Sepi pembeli, sudah lama sejak awal bulan November lalu. Jadi selepas dhuhur, para pedagang banyak yang pulang,” kata Rahayu, penjual sayuran di Pasar Wage Purwokerto, Selasa (15/12/2020).

Biasanya aktivitas para pedagang di bagian dalam Pasar Wage maupun di deretan sepanjang Jalan Vihara berlangsung hingga sore hari. Bahkan, beberapa pedagang ada yang berjualan hingga 24 jam. Namun, sepinya pembeli membuat mereka harus tutup lebih awal.

“Kalaupun buka sampai sore, yang beli juga tidak ada, jadi lebih baik tutup siang hari saja,” tuturnya.

Rahayu sendiri berjualan aneka jenis sayuran mulai dari kangkung, wortel, tomat, daun bawang, sawi, kentang, mentimun, hingga cabai, bawang merah, bawang putih dan lain-lain. Menurutnya, harga sayuran sejauh ini relatif stabil, meskipun mendekati perayaan Natal dan tahun baru. Kalau toh ada kenaikan hanya kisaran Rp 100 – Rp 200 saja.

Menurutnya, untuk menaikan harga barang dagangan juga tidak memungkinkan, karena kondisinya pasar sudah sepi. Jika harga-harga naik, justru pembeli akan semakin berkurang.

Hal senada juga diungkapkan, Supriyanto, pedagang tahu serta tempe di Pasar Wage Purwokerto. Menurutnya, pada saat menjelang akhir tahun seperti sekarang, menjadi lahan panen keuntungan bagi pedagang karena harga-harga mulai naik dan penjualan juga meningkat.

Namun, kondisi akhir tahun ini, jauh berbeda. Jangankan bisa panen keuntungan lebih banyak, untuk menjual habis barang dagangannya saja sulit.

“Bisa laku separuh dari dagangan kita saja sudah sangat bersyukur, karena ekonomi sedang sulit, orang banyak yang tidak mempunyai uang, usaha lesu hampir di semua jenis usaha,” tuturnya.

Peningkatan jumlah kasus Covid-19 hingga stastus zona merah yang disandang Kabupaten Banyumas, ternyata sangat berdampak terhadap para pedagang di pasar-pasar tradisional. Mengingat masyarakat mulai kembali membatasi aktivitas mereka, terutama untuk mengunjungi pusat-pusat keramaian seperti pasar tradisional. Bahkan, momentum menjelang akhir tahun, mendekati perayaan Natal dan tahun baru, tidak mampu mendongkrak perekonomian.

Lihat juga...