Pemasaran Online, Cara Pedagang di Lampung Tambah Pendapatan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Berkurangnya jumlah konsumen yang berbelanja ke pasar Bambu Kuning, Jalan Batu Sangkar, Tanjung Karang, Bandar Lampung, berdampak bagi sejumlah pedagang. Mereka kemudian memanfaatkan jaringan internet untuk memasarkan produknya, dan berhasil menambah omzet penjualan.

Mariani, pedagang di blok A lantai dasar pasar itu, mengaku volume penjualan menurun. Dampak pandemi Covid-19 ikut menurunkan minat masyarakat berbelanja kebutuhan sandang.

Meski penjualan secara langsung di toko (offline), ia juga melakukan pemasaran menggunakan internet (online). Pemanfaatan media sosial dilakukan untuk memperluas jangkauan konsumen. Interaksi dengan konsumen dilakukan menggunakan platform jual beli, media sosial Facebook dan Instagram. Solusi itu mendorong jumlah penjualan pakaian di toko miliknya.

Toko pakaian yang didominasi kaos, kemeja santai serta pakaian seragam sekolah tetap dikunjungi konsumen. Sebagian pakaian gamis atau busana muslim dijual olehnya menggunakan media sosial. Pelanggan bisa melakukan pemilahan corak warna, ukuran melalui foto yang dipajang di galeri media sosial.

Mariani (kiri), pemilik toko pakaian di pasar Bambu Kuning, Jalan Batu Sangkar,Tanjung Karang, Bandar Lampung, menunggu, Selasa (/12/2020). -Foto: Henk Widi

Memanfaatkan jejaring sosial bersponsor, ia bisa menjangkau konsumen sebanyak mungkin.

“Saat ini, jejaring sosial Facebook memberi ruang bagi pelaku usaha kecil terdampak pandemi. Dengan keringanan membayar biaya iklan lebih terjangkau, namun bisa menyasar banyak konsumen, sebagian mengirim inbox atau direct message mengenai harga, dan jika cocok bisa dikirim cash on delivery,” terang Mariani, saat ditemui Cendana News, Selasa (1/12/2020).

Memaksimalkan tren kekinian masyarakat belanja secara online, ikut menguntungkan bagi pedagang. Namun bertahan berjualan secara offline,  masih bisa memberinya omzet ratusan ribu rupiah per hari. Tambahan penjualan secara online bisa memberinya tambahan ratusan ribu rupiah. Dibantu sang suami sebagai kurir, volume penjualan bisa ditingkatkan.

Solusi melalukan pemasaran online, sebutnya, sangat membantu biaya operasional. Sebab, biaya sewa kios di pasar Bambu Kuning mencapai jutaan rupiah dibayar tahunan. Selain itu, ia harus membayar salar untuk uang keamanan dan kebersihan. Penurunan jumlah penjualan saat pandemi Covid-19, menjadi pukulan telak bagi pedagang.

“Pedagang harus berinovasi, di antaranya dengan melibatkan keluarga menjadi marketing di media sosial masing-masing,” cetusnya.

Hasanah, pedagang sepatu di Blok B pasar Bambu Kuning, juga menyebut tren masyarakat membeli secara langsung mulai berkurang. Namun, ia tetap tidak kekurangan akal dengan memajang barang dagangan di media sosial. Sebagian konsumen memilih membeli dari toko miliknya secara online. Omzet penjualan harian normalnya mencapai ratusan ribu rupiah per hari, terbantu dengan sistem penjualan online.

“Sebagian sepatu, sendal yang saya jual dijual secara online membantu peningkatan penjualan,” bebernya.

Sementara itu, Naridim, petugas keamanan di pasar Bambu Kuning, menyebut menurunnya omzet pedagang tidak mempengaruhi pembayaran salar. Menurutnya, sejumlah pedagang mulai mengeluh omzet menurun sejak awal tahun. Harapan penjualan meningkat jelang Idulfitri dan Iduladha  tahun ini, bahkan tidak terjadi. Kekuatiran akan Covid-19 dan daya beli menurun, menjadi pemicu omzet menurun.

“Pedagang umumnya mengeluh omzet menurun, sehingga uang sewa kios harus dibayar secara berkala,” cetusnya.

Lihat juga...