Pembangunan Tanggul Solusi Mudah Atasi Abrasi di Maumere

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pembangunan tanggul pemecah gelombang sepanjang satu kilometer di wilayah timur Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, merupakan solusi mudah dalam mengatasi permasalahan abrasi. Hal ini dilakukan, mengingat sebagian wilayah di sebelah barat dan di tengah kota sudah dibangun tanggul penahan gelombang, sehingga gelombang akan menerjang di wilayah timur Kota Maumere.

“Bangun tanggul memang solusi yang paling mudah yang dipilih pemerintah, guna mengatasi abrasi. Apalagi, di wilayah Kota Maumere,” kata Carolus Winfridus Keupung, mantan Direktur WALHI NTT, saat ditemui Cendana News di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) Kota Maumere, Rabu (16/12/2020).

Win, sapaannya, mengatakan pembangunan tanggul penahan gelombang maupun pemecah gelombang (break water) mempergunakan biaya yang sangat besar dan harus menyeluruh.

Carolus Winfridus Keupung, saat ditemui di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (16/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Menurutnya, pembangunan tanggul yang dilakukan di wilayah timur Kota Maumere terjadi karena wilayah tersebut sebelumnya tidak ada tanggul, sehingga saat gelombang akan terdampak.

“Untuk itu, semua wilayah di kota harus dibangun tanggul sehingga tidak ada wilayah yang akan terkena abarasi. Gelombang pasti akan menerjang daerah yang belum ada tanggulnya dan dampaknya pasti akan lebih besar,” ucapnya.

Win menyarankan, sebaiknya dilakukan juga penanaman pohon pelindung seperti waru dan bakau di pesisir pantai, agar bisa mencegah terjadinya abrasi di wilayah timur Kota Maumere di sepanjang pesisir pantai Kecamatan Kangae dan Kewapante.

Selain itu, di wilayah barat di Kecamatan Alok Barat dan Magepanda juga dilakukan penanaman, agar saat terjadi musim badai dan gelombang tinggi tidak terjadi abrasi.

“Abrasi di beberapa wilayah pesisir kian parah, karena tidak ada hutan mangrove. Pembangunan yang dilakukan juga merusak ekosistem di wilayah pesisir,” ungkapnya.

Sementara itu, Siprianus Nong, salah seorang warga Kecamatan Magepanda saat ditemui di Desa Kolisia, mengaku dampak abrasi di pesisir pantai Desa Kolisia kian mengkuatirkan selama kurun 5 tahun terakhir.

Sipri mengatakan, dalam setahun diperkirakan daratan yang terkena abrasi sepanjang 30 centimeter akibat hutan mangrove yang berada di pesisir pantai desa tersebut sudah banyak yang berkurang.

“Harus ada kegiatan penanaman mangrove secara besar-besaran setiap tahunnya, agar sepanjang pantai di Kecamatan Magepanda kembali menjadi hutan mangrove. Apa yang dilakukan Baba Akong di Pantai Ndete harus ditiru, karena membuat Magepanda kembali dipenuhi hutan mangrove,” ucapnya.

Lihat juga...