Pemerintah Didorong Bangun Pariwisata Barbasis Pengetahuan dan Teknologi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Ketua Aliansi Kebangsaan Ponco Sutowo menyebutkan, sektor pariwisata memang mengalami penurunan selama pandemi. Tapi, juga dipercaya akan menjadi salah satu sektor yang akan bangkit dengan cepat dan menjadi sumber kemandirian ekonomi. Selama, para pelaku usaha dan pemerintah serta sektor terkait lainnya mampu dan mau untuk mulai mengembangkan pariwisata yang berbasis pengetahuan dan teknologi untuk mencapai industri wisata yang berkelanjutan.

“Data BPS Agustus 2020, wisman hanya tercatat 165 ribu turun drastis 89,22 persen dibandingkan periode yang sama year on year (YoY). Yang jika diperbandingkan dengan pemasukan devisa yaitu sekitar 14-15,8 miliar Dollar Amerika,” katanya dalam acara online, Minggu (20/12/2020).

Sebagai contoh, ia menyebutkan Bali yang masih merelokasi kegiatan hingga akhir tahun untuk mencegah potensi penyebaran dan mengalami kerugian potensi sekitar Rp8 triliun per bulannya.

“Penurunan ini berimbas juga pada sektor perhubungan, sektor perhotelan dan sektor kuliner yang dimiliki UMKM. Walaupun kita tidak mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir, tapi banyak pihak yang mempercayai bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang paling mudah bangkit paska penurunan akibat pandemi,” ujarnya lebih lanjut.

Pemerintah, lanjutnya, memprediksi sektor pariwisata akan secepatnya bangkit karena adanya permintaan dari kalangan kelas atas dan kelas menengah. Selain itu industri pariwisata Indonesia memenuhi kualifikasi untuk bangkit dan beradaptasi dengan tatanan hidup baru.

“Tren pariwisata akan mengalami perubahan yang mengikuti berbagai standar protokol kesehatan di masa mendatang. Ini harus dikembangkan menjadi skema pariwisata yang mempertimbangkan kebutuhan para wisatawan, cleanness, safe, health and environmental, yang didukung dengan dana hibah dari pemerintah,” paparnya.

Ponco menyatakan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi akan menjadi titik penting, untuk meningkatkan pariwisata di bidang promosi, branding, advertising dan selling.

“E-tourism ini sudah banyak dikembangkan oleh berbagai negara. Indonesia juga sudah mengembangkan ITX, yang merupakan suatu platform yang memberikan kemudahan bagi para wisatawan. Dewasa ini, teknologi sudah memberikan pengaruh signifikan pada dalam pertumbuhan dan kemandirian ekonomi suatu bangsa, menggantikan modal lahan dan energi untuk meningkatkan daya saing,” paparnya lebih lanjut.

Ia menegaskan, Indonesia harus secepatnya mengejar ketertinggalan teknologi informasi dan komunikasi dengan membangun sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, lembaga penelitian dan lembaga pemberdayaan masyarakat.

“Bangsa ini tidak bisa hanya menjadi penonton. Tapi harus turut mengambil bagian dalam perkembangan pengetahuan dan teknologi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi yang berbasis pengetahuan lalu bersaing di kancah global,” tandasnya.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof. Satryo S. Brodjonegoro menyatakan pengembangan pariwisata tidak boleh lepas dari pengembangan pengetahuan dan teknologi.

“Selain itu, ada juga pendekatan lainnya yaitu bagaimana mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan. Karena kita melihat, Pulau Bali saja sebelum COVID sudah muncul tingkat kejenuhan pada obwis, padahal Bali memiliki keindahan alam dan budaya yang memiliki daya tarik tersendiri. Tapi dengan banyaknya wisatawan, daya dukungnya terlihat sudah menurun, yang berpotensi menimbulkan over-exposure,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Contohnya, di Novina, turis dulu masih bisa lihat ikan lumba-lumba. Tapi saat ini, ikan lumba-lumba sudah jarang. Kalaupun muncul, agak jauh dari pantai. Hal ini diakibatkan, bertumbuhnya resort di sekitar kawasan yang mengganggu habitat lumba-lumba tersebut.

“Disinilah kita harus menggunakan pengetahuan untuk menciptakan pengembangan yang berimbang dengan ekosistem sekitar,” ucapnya tegas.

Contoh lainnya, di Raja Ampat yang memiliki daya tarik di terumbu karang. Tapi jika dilihat, saat akses dibuka dan perkembangan resort akan berpotensi merusak habitat yang ada.

“Jadi yang perlu dilakukan adalah pengembangan pariwisata yang mampu mendukung objek wisata yang ada dan menjaga keberlangsungannya. Sehingga akan terbentuk ekonomi jangka panjang,” ujarnya.

Hikmah COVID 19 ini, menurutnya, adalah bagaimana kita bisa membentuk suatu program yang dapat dilangsungkan secara kontinyu tapi tetap patuh dengan protokol kesehatan dan menjaga ekosistem yang ada.

“Jadi bukannya mengeksploitasi tapi melestarikan lingkungan untuk jangka panjang sehingga ekonomi pun bisa mendukung untuk jangka panjang. Masyarakat sekitar pun bisa mendapatkan manfaatnya,” pungkasnya.

Lihat juga...