Pemerintah Siap Tangani 4,34 Juta Anak tak Sekolah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut, 4,34 juta anak Indonesia usia 7 sampai 18 tahun tidak mengenyam pendidikan di sekolah formal. Sejumlah faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, antara lain keterisoliran wilayah dan masalah geografis, serta isu-isu anak seperti anak dengan disabilitas, anak yang bekerja, anak terlantar, anak jalanan, perkawinan usia dini, serta anak yang berhadapan dengan hukum.

Sekretaris Utama Bappenas, Himawan Hariyoga mengungkapkan, bahwa persoalan itu sangat penting untuk segera diatasi. Bappenas sendiri, kata Himawan telah meluncurkan Strategi Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah (Stranas ATS).

“Strategi ini bertujuan untuk memastikan adanya penguatan, perbaikan, perluasan, dan koordinasi yang lebih baik dan efektif dari berbagai program serta inisiatif pemerintah maupun masyarakat. Guna memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di Indonesia,” kata Himawan dalam webinar bertajuk Stranas ATS yang diikuti Cendana News, Kamis (31/12/2020).

Himawan menyatakan, bahwa dokumen Stranas ATS juga dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun kebijakan dan program di berbagai sektor, dalam rangka memastikan ATS mendapatkan layanan pendidikan.

Output yang dihasilkan dari dokumen Stranas ATS ini berupa pemetaan kebijakan dan program yang terkait dengan ATS. Lalu pemetaan kebijakan lintas pemangku kebijakan untuk menangani masalah ATS. Selanjutnya rekomendasi untuk perbaikan kebijakan, peraturan, perencanaan dan penganggaran untuk mengatasi masalah ATS dengan lebih baik lagi. Serta rekomendasi tindakan prioritas untuk menangani masalah ATS,” papar Himawan.

Stranas ATS sendiri merupakan dokumen terbuka yang masih terus disempurnakan untuk mengakomodasi aspirasi berbagai pihak, serta merespon berbagai perubahan kondisi daerah.

“Melengkapi dokumen Stranas ATS, kami juga telah menyusun dokumen petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan Stranas ATS untuk memberikan panduannya di daerah, terutama untuk menangani ATS,” tukas Himawan.

Di forum yang sama, Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengutarakan, bahwa Bappenas juga telah bekerjasama dengan UNICEF RI untuk mengatasi masalah ini. Kedua pihak bersepakat melaksanakan Rencana Aksi Pembangunan Anak dengan anggaran sebesar US$ 150 juta.

“Indonesia memiliki semua potensi untuk mengatasi tantangan pembangunan bagi anak-anak. Tapi kita akan lebih kuat jika bersama. Inilah sebabnya kita menjalin kerja sama dengan semua pihak termasuk UNICEF,” tandasnya.

Suharso menegaskan, bahwa upaya penanganan isu anak di Indonesia melalui Stranas ATS dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan nasional di dalam bidang pendidikan yang tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

“Di tingkat global, Stranas ATS juga akan berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) khususnya tujuan 4, yakni menjamin tujuan pendidikan yang inklusif dan merata. Serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua,” pungkas Suharso.

Lihat juga...