Pencak Silat, Aset Budaya yang Perlu Dilestarikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil, mengatakan, pencak silat merupakan aset budaya yang perlu dilestarikan. Tidak hanya digunakan untuk bela diri, tetapi bisa juga sebagai pendidikan mental dan spiritualitas. Oleh karena itu, pesilat harus memiliki mentalitas dan spiritualitas yang kuat.

“Alhamdulillah perjuangan bertahun-tahun itu menemukan puncak keberhasilannya dengan diterimanya pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda di tahun 2019. Selanjutnya kami tidak berhenti sampai di situ, kita tengah menyiapkan agar budaya pencak silat ini di Jabar bisa tetap lestari,” kata Kang Emil, sapaannya, berdasarkan rilis yang diterima, Minggu (13/12/2020).

Menurut Kang Emil, pencak silat memang harus terus dilestarikan keberadaannya, seperti halnya angklung yang bisa mendunia. Pencak silat dapat menjadi etalase wajah kebudayaan dan juga pendidikan di Indonesia, khususnya di Jabar.

“Oleh karena itu, ke depan perlu disiapkan bahwa pencak silat masuk dalam pembelajaran muatan lokal. Insyaallah  didukung oleh DPRD, serta dinas terkait. Semoga di tahun depan saat memasuki tahun ajaran baru, kita bisa mulai tahapan proses hadirnya kurikulum ekstrakurikuler pencak silat secara wajib, di tahun pertama untuk SD, SMP,  SMK di Jabar,” katanya.

Selain menyentuh kalangan pelajar dari sekolah dasar hingga menengah atas, pencak silat juga akan menjadi primadona warisan budaya yang istimewa di Jabar dengan disiapkannya kampung kebudayaan di Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

“Kita tengah menyiapkan kampung kebudayaan Jabar di Jatinangor dengan luas lahan sekitar 8-10 hektare di mana primadonanya salah satunya adalah pencak silat yang akan mendapatkan tempat istimewa di sana. Lalu kita akan melakukan dokumentasi secara internasional agar seperti angklung. Disukai oleh warga dunia. Setara dengan apa yang kita upayakan sekarang, yaitu pencak silat sebagai bagian diplomasi kebudayaan di Indonesia, khususnya Jabar,” tambahnya.

Dia mengapresiasi seluruh jajaran yang telah bekerja keras dalam memperjuangkan warisan budaya leluhur ini untuk dijadikan sebagai salah satu sarana diplomasi kebudayaan di Jabar. Apalagi dengan dukungan dari UNESCO yang menjadikan pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda, secara tidak langsung memotivasi semua pihak untuk bersemangat melestarikan.

“Saya kira itulah tugas kita semua untuk menyiapkan cetak biru, menyiapkan keberpihakan secara nyata sehingga pencak silat bisa lahir kembali menjadi budaya utama di Jabar,” katanya.

Jabar telah mendeklarasikan Hari Pencak Silat jatuh pada 12 Desember. Ia pun  mengusulkan kepada pemerintah pusat agar menetapkan 12 Desember sebagai Hari Pencak Silat Nasional.

“Tanggal 12 Desember kami mendeklarasikan sebagai Hari Pencak Silat di Jabar, mudah-mudahan bisa diterima oleh pemerintah pusat, karena kami juga mengusulkan untuk dijadikan Hari Pencak Silat Nasional,” kata Kang Emil yang telah mendapatkan anugerah Pendekar Jabar dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jabar.

Ketua IPSI Jabar, H. Phinera Wijaya alias Kang Icak, mengatakan, anugerah Pendekar Jabar diberikan kepada Kang Emil karena Kang Emil berkomitmen untuk memperjuangkan dan mempromosikan pencak silat ke seluruh negara di dunia.

Prestasi besar ini bukan suatu kebetulan melainkan karena kerja keras, apresiasi disampaikan untuk sosok seorang Ridwan Kamil dengan semangat juara menunjukkan kepedulian. Ketika baru menjabat sebagai Gubernur Jabar langsung memberikan dukungan sepenuhnya kepada pencak silat dengan promosi kepada UNESCO di negeri Belanda, Belgia dan Perancis pada Oktober 2018.

Kang Icak berharap konsistensi dan komitmen Kang Emil tetap terjaga. Hal itu terbukti dengan kebijakannya untuk menyiapkan perkampungan pencak silat di atas lahan kurang lebih 8 hektare di Jatinangor, dan memasukkan pencak silat dalam kurikulum muatan lokal di level SD/SMP/SMK.

Lihat juga...