Pendidikan Karakter di Masa Pandemi jadi Tantangan Negara

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Suramta, mengatakan, pendidikan di ruang kelas di masa pandemi Covid-19 sekarang ini direduksi menjadi pembelajaran online. Dikhawatirkan pendidikan karakter yang didapat oleh anak-anak akan menjadi hilang.

“Saya khawatikan nanti akan kehilangan esensi pada pendidikan karakter. Bisa jadi transfer ilmunya didapat anak, tapi pendidikan karakternya mungkin hilang,” ujar Suramta, pada acara online tentang pendidikan karakter di Jakarta, Kamis (31/12/2020).

Untuk menumbuhkan pendidikan karakter anak di rumah selama pandemi Covid-19 ini, menurutnya, dibutuhkan sinergi pihak sekolah dengan orang tua.

“Jangan sampai nanti anaknya dapat tambahan pengetahuan, tapi urusan pendidikan karakternya nggak dapat,” tukasnya.

Menurutnya, pendidikan karakter di masa pandemi ini menjadi tantangan masyarakat dalam bernegara. Tantangan ini juga menjadi tugas pejabat negara.

“Jadi kalau ada yang bilang ini berat, ya memang itu tugas negara. Kalau merasa keberatan ya jangan jadi pejabat negara. Karena terkait pendidikan karakter ini, negara harus gerak, bersinergi dengan orang tua,” ungkapnya.

Apalagi dia menilai, saat ini di sekolah-sekolah secara pelan-pelan pendidikan karakter telah bergeser. Sekolah itu menurutnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, sehingga nanti setelah lulus siswa mendapat pekerjaan.

Padahal sesungguhnya, sekolah adalah alat negara yang paling sempurna  untuk melakukan pendidikan menjadi manusia seutuhnya.

“Manusia yang punya pikiran dan keterampilan untuk bekerja mencari nafkah, tapi punya karakter yang baik sebagai anak bangsa,” ungkapnya.

Menurutnya, manusia mempunyai kebebasan untuk berkehendak dan berpikir, maka itu yang harus diarahkan serta dididik dengan pendidikan karakter.

Di negara maju sebut dia, anak usia sampai 10 tahun difokuskan betul soal pendidikan karakter, baru kemudian diisi dengan pondasi ilmu pengetahuan dan keterampilan.

“Jadi sangat sistematis dan konsisten,” ujarnya.

Terkait kurikulum menurut dia, sejak tahun 1970 dan 1980 bahkan sampai saat ini, walaupun negara industri atau negara maju, pendidikan umum tetap bernilai komprehensif dan holistik.

“Nah, di kita setiap lima tahun ganti menteri, ganti kurikulum, tetapi tidak jelas arahnya,” ujarnya.

Maka, tegas dia lagi, bagian dari pendidikan itu, yakni bagaimana agar anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya. Tentu dengan pembelajaran kemandirian dan disiplin yang merupakan bagian dari proses tarbiyah atau proses pendidikan karakter.

Lihat juga...