Pengamat: Kunci Keberhasilan PJJ, Perubahan Cara Pembelajaran

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Banyaknya keluhan saat melakukan pembelajaran secara online, dinyatakan karena ketidaktepatan dalam mengaplikasikan sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran harusnya berubah. Bukannya hanya memindahkan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online.

Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji menyatakan bahwa kunci dari keberhasilan PJJ adalah perubahan cara pembelajaran.

“Kalau cara pembelajaran masih seperti masa tatap muka, wajar saja kalau gagal. Tapi kalau sudah bertransformasi, pastinya akan berubah hasilnya. Karena kan tujuannya adalah anak bisa belajar,” kata Indra dalam acara online pendidikan, Kamis (24/12/2020).

Dan anak juga akan mengerti materi yang dipelajarinya akan dapat dipergunakan dalam hal apa.

“Jadi bukan hanya mendengar guru ceramah dan memahaminya untuk ulangan. Tapi akan memahami pelajarannya dalam digunakan di kehidupan sehari-hari. Selain itu, materi yang ada tidak akan saling tumpang-tindih. Tapi akan menjadi satu kesatuan dipelajari peserta didik yang diwujudkan dalam proyek yang mereka kerjakan,” urainya.

Br. Stefanus Ngadenan dalam acara online tentang pendidikan, Kamis (24/12/2020) -Foto Ranny Supusepa

Kepala SMA Pangudi Luhur 1 Yosef Solo, Br. Stefanus Ngadenan menyatakan dalam pembelajaran selama pandemi, sekolah yang dipimpinnya menggunakan sistem collaborative learning. Dimana pembelajaran bisa memberikan nilai lebih pada anak.

“Sekolah yang mampu beradaptasi dan bertransformasi akan menghilangkan dampak negatif dari PJJ. Dan sekolah yang berhasil menjalankan adalah yang mampu berkompetisi dan bertahan dalam menjalani kondisi pandemi,” kata Stefanus dalam kesempatan yang sama.

Dan ia menyebutkan, bahwa untuk menyatakan keberhasilan itu, bukan hanya sekolah yang menyebutkan berhasil.

“Tapi semua aspek yang terlibat dalam pembelajaran tersebut. Baik peserta didik, guru maupun orang tua yang mengalami masa-masa menjadi guru selama masa pandemi. Orangtua yang merasakan beratnya mengajar,” ucapnya.

Pemilihan PJJ, menurutnya merupakan pilihan terbaik, yang mementingkan kesehatan dan keselamatan semua pihak.

“Bukannya tidak ada yang menyatakan, keinginannya untuk kembali tatap muka. Tapi yang menjadi pertimbangan kan kesehatan dan keselamatan. Sehingga, peserta didik, pendidik dan orangtua ditantang untuk melewati masa ini dengan baik. Orangtua merasakan repotnya mendidik anak remaja. Anak juga merasakan kebosanan. Semuanya harus bersinergi dalam memberikan hasil yang terbaik,” pungkasnya.

Lihat juga...