Pengamat: Pembangunan PEN Harus Kedepankan Aspek Lingkungan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya mengimbau pemerintah dalam pembangunan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tidak boleh mengesampingkan aspek lingkungan. Jika kebijakannya tidak berpihak pada lingkungan, hal itu tentu akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Pembangunan yang mengedepankan aspek lingkungan, itu akan mendorong ekonomi berkelanjutan. Jadi pemerintah dengan berbagai kebijakannya harus memperhatikan lingkungan,” ungkap Berly, kepada Cendana News saat dihubungi, Rabu (16/12/2020).

Pembangunan yang sifatnya business as usual menurutnya, akan sangat membahayakan lingkungan. Maka itu, kebijakan pemerintah jangan hanya memikirkan manusia sebagai penggerak roda perekonomian saja.

Namun persoalan kerusakan alam dan lingkungan dalam jangka panjang yang mungkin terjadi di Indonesia, itu harus diatasi dari sekarang dengan kebijakan penyelamatan lingkungan.

Dia menyarankan agar pemerintah harus melakukan banyak upaya menghentikan deforestasi. Karena deportasi hutan primer, pertambangan, dan  perhutanan telah menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan ini berkonstribusi pada peningkatan kontak fisik antara satwa liar yang membawa fatogen dengan manusia.

Seperti yang  terjadi di Thiongkok, dimana ada virus berasar kelelawar liar masuk ke tubuh manusia dan akhirnya berdampak kepada seluruh dunia.

“Hilangnya hutan itu bisa meningkatkan intensitas kontak fisik satwa liar dengan manusia. Ya, seperti yang terjadi saat ini virus Covid-19 yang berasal dari kelalawar yang habitatnya sudah rusak,” tukasnya.

Terkait aspek lingkungan, jelas dia lagi, Indonesia akan menghadapi tantangan yakni naiknya permukaan air laut. Hal ini terungkap dalam laporan New Elevation Data Triple Estimates of Global Vulnerability To Sea-Level Rise and Coastal Flooding 2019.

Yakni dalam laporan itu sebut Berly, pada tahun 2050 sebagian besar permukaan laut di seluruh dunia akan naik di ketinggian 50 sentimeter sampai 1 meter.

“Diprediksi 340 juta orang akan tinggal di bawah permukaan laut,” ujar Berly Martawardaya yang merupakan Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Lihat juga...