Pengelolaan DAS, Upaya Pemanfaatan SDA di Waiblama Sikka

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Wakil Ketua Tim Kerja Pengelolaan DAS dan Pengembangan Kawasan Terpadu Waduk Napun Gete (TKPDASKT-WNG), Waiblama,  Sikka, Nusa Tengara Timur (NTT), Rafael Raga, menyebutkan potensi sumber daya alam (SDA) di Kecamatan Waiblama sangat melimpah dan perlu ditingkatkan pemanfaatannya.

“Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah melakukan pengelolaan Daerah Aliran Sungai,” kata Rafael saat ditemui Cendana News di rumahnya, Rabu (9/12/2020).

Selain itu tambah Ketua DPRD Sikka ini, dilakukan pengembangan kawasan penyangga Waduk Napun Gete sebagai kawasan pengembangan dan pusat pertumbuhan ekonomi terpadu berbasis konservasi.

“Problem utama yang dihadapi petani tanaman pangan wilayah DAS Napun Gete dan wilayah Kecamatan Waiblama umumnya adalah skala usaha yang relatif kecil dengan luas daerah irigasi yang sangat sempit dan belum dioptimalkan,” ucapnya.

Rafael Raga saat ditemui di rumahnya, Rabu (9/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Rafael menyebutkan, luas sawah di Waiblama yang dilayani air irigasi masih sangat terbatas seperti daerah irigasi Pruda, Wairhewat, Tanarawa dan Werang, meskipun masih memiliki potensi yang cukup banyak untuk dikembàngkan.

Dia mengatakan, kawasan hutan  lindung Egon Ilin Medo dan Wuko yang berada di wilayah DAS Napun Gete semakin sempit dengan adanya program Hutan Kemasyarakatan (HKM) dan sebagian besar dalam keadaan kritis dan sangat kritis.

Kondisi ini ucapnya, diperparah dengan kebiasaan masyarakat Tana Ai membuka kebun dengan menerapkan sistem tebas bakar dan ladang berpindah.

“Kerusakan hutan dan alih fungsi lahan, terutama di kawasan hulu, yang merupakan kawasan konservasi dan kawasan resapan air telah memberikan dampak yang  buruk terhadap daya dukung lingkungan,” tegasnya.

Kondisi ini tandas Rafael, menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan sangat kritis di wilayah DAS Napun Gete. Hal tersebut lanjutnya, mengakibatkan meningkatnya erosi lahan dan limpasan permukaan serta menurunnya aliran dasar pada musim kemarau.

Camat Waibalama, Antonius Jabo Liwu mengatakan, sering terjadinya banjir juga diakibatkan hutan daerah hulu dan kayu di bantaran kali ditebang untuk bahan bangunan atau digundulkan untuk membuka lahan kebun bahkan melewati sepadan kali.

Tonce sapaannya mencontohkan, tahun 2010 bangunan Jembatan Liwun Wulut diterjang banjir bandang dan bobol karena daerah hulu di Desa Natarmage dan Tana Kepi, Desa Tanarawa gundul karena bukan hamparan kebun.

“Kita ingin memberdayakan masyarakat dengan melakukan konservasi dan melakukan pemanfaatan sumber daya alam yang ada di Kecamatan Waiblama yang cukup melimpah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” tuturnya.

Lihat juga...