Pengelolaan Sampah Bijak Kunci Jaga Kebersihan Sungai di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sampah masih jadi persoalan klasik bagi upaya menjaga kebersihan sungai di Lampung Selatan. Sungai masih jadi lokasi pembuangan favorit bagi masyarakat yang tidak memiliki fasilitas. Dampaknya tempat pembuangan liar terjadi di sejumlah sungai Lampung Selatan.

Rusman, salah satu pengepul menyebut sampah tak terurai berasal dari plastik. Kesadaran masyarakat agar tidak dibuang ke sungai, tepi jalan masih rendah. Paling dominan sebutnya merupakan buangan dari perumahan. Sebagian berasal dari pasar dan pelaku usaha yang membuang batok kelapa muda, sisa makanan hingga perabotan rumah tangga

“Saat kemarau sebagian warga membakar sampah yang dibuang namun saat penghujan sulit terbakar, justru sebagian terbawa arus sungai Tuba Mati sehingga menyumbat aliran irigasi dan bendungan yang akan digunakan oleh petani, botol pastik, kawat, paku dan kaleng cukup membahayakan petani dan merusak lingkungan,” terang Rusman saat ditemui Cendana News, Rabu (9/12/2020)

Rusman bilang pengelolaan sampah secara bijak telah dilakukan sebagian warga. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan telah dilakukan dengan pemilahan organik dan non organik. Yang bernilai jual telah dikumpulkan warga di Desa Pasuruan yang akan dibelinya. Meski dibeli seharga Rp4.000 hingga Rp7.000 per kilogram, sejumlah barang rongsokan masih bernilai ekonomis tinggi.

Kelestarian sungai yang terjaga dengan pengelolaan sampah baik diakui Riken, warga Desa Gedong Harta,Kecamatan Penengahan. Sumber mata air Way Batokh yang mengalir sepanjang musim berasal dari kelestarian Gunung Rajabasa. Kebersihan sungai dari aliran Way Batokh berfungsi sebagai air bersih dan irigasi pertanian warga.

Rusman (kanan) pengepul barang rongsokan yang masih bisa terpakai memanfaatkan sampah plastik agar tidak terbuang ke sungai di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Rabu (9/12/2020). Foto: Henk Widi

Riken bilang selama puluhan tahun aliran Way Batokh jadi sumber kehidupan warga. Menjaga sungai dari sampah telah menjadi kesadaran warga sebagai kearifan lokal sejak puluhan tahun silam. Kearifan lokal tersebut mempertahankan sungai tetap bersih untuk mandi minum dan kebutuhan lain.

“Kuncinya sungai tidak jadi lokasi pembuangan sampah karena akan tercemar dan terjadi pendangkalan,” terang Riken.

Kebersihan Way Batokh yang menjadi sumber mata air sungai Way Gayam mengalir ke sungai Way Pisang. Pasokan air yang berasal dari kelestarian hutan lindung Gunung Rajabasa menurut Riken memiliki fungsi ekonomis. Sebab sebagian warga memanfaatkan air bersih untuk dijual dalam bentuk air isi ulang. Setelah melalui proses filterisasi, air bersih didistribusikan melalui galon ukuran 19 liter.

Larangan membuang sampah ke saluran Way Batokh sebut Riken cukup beralasan. Sebab saluran tersebut menjadi tempat untuk meletakkan ratusan selang milik warga.

Joni, salah satu anak di desa tersebut mengaku memanfaatkan kebersihan Way Batokh untuk bermain dan mandi bersama sejumlah rekannya. Aktivitas mandi dan bermain kerap dilakukan sembari memeriksa aliran selang yang mengalir ke rumah warga meminimalisir kebocoran.

Lihat juga...