Pengembangan Vaksin Merah Putih di 2021 Dianggarkan Kemristek Rp300 Miliar

Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020) – foto Dok Ant

JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), mengalokasikan anggaran Rp300 miliar, untuk pengembangan vaksin Merah Putih di 2021.

“Tahun depan, sudah kami siapkan sekitar Rp300 miliar, dan tentunya kalau memang masih ada kekurangan, kami akan mengajukan penambahan, paling tidak kita siapkan dulu Rp300 miliar untuk memastikan tahapan lab sampai uji klinis bisa berjalan dengan lancar,” kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang P.S. Brodjonegoro, di Jakarta, Kamis (3/12/2020).

Dukungan anggaran pengembangan vaksin Merah Putih itu, akan mencakup beberapa tahap. Yang pertama pada tahap riset di laboratorium, termasuk uji di hewan. Kemudian kedua adalah dukungan anggaran untuk uji klinis manusia tahap 1, 2, dan 3. Sedangkan untuk produksi dan distribusi vaksin, berada di luar tugas dan fungsi dari Kemristek.

Pihaknya akan menggunakan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153/PMK.010/2020, yang mengatur tentang super tax deduction, untuk melakukan pendekatan kepada para perusahaan swasta dan pabrik-pabrik farmasi untuk dapat terlibat.Terutama mendanai riset dan pengembangan vaksin, baik di laboratorium maupun tahap uji klinis.

Saat ini, ada enam lembaga yang sedang mengembangkan vaksin Merah Putih yaitu, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Universitas Airlangga (Unair), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Masing-masing melakukan pengembangan dengan platform yang berbeda-beda.

“Kami memberikan dukungan kepada enam tim yang bekerja untuk menghasilkan bibit vaksin COVID-19 di mana dengan keadaan tersebut maka tim tersebut akan mendapatkan dukungan anggaran baik anggaran penelitian maupun nantinya anggaran untuk uji klinis manusia,” katanya.

Anggaran tersebut diberikan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan masing-masing institusi. Anggaran tersebut dapat digunakan seperti pada tahap laboratorium, untuk membeli material, seperti reagen dan hewan uji coba atau hewan mencit yang saat ini masih diimpor. “Dan juga sudah ada permintaan untuk kebutuhan alat yang nantinya juga bisa di-support (dibantu),” tambah Menristek Bambang.

Pengembangan bibit vaksin di tahap laboratorium, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Begitu juga dengan kebutuhan dana dalam pelaksanaan uji klinis. Oleh karena itu, perlu melibatkan perusahaan-perusahaan farmasi, termasuk swasta. “Tahun depan kita akan upayakan untuk uji klinis, mereka tidak perlu khawatir dalam pelaksanaan uji klinis yang memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” jelas Bambang.

Tim pengembangan vaksin Merah Putih juga mendapatkan dukungan untuk kebutuhan peralatan atau material, yang diperlukan dalam penelitian vaksin. Baik yang dilakukan masing-masing institusi maupun pada pusat pengembangan vaksin nasional, yang sedang dipersiapkan di kompleks Puspiptek Serpong.

Pusat pengembangan vaksin nasional itu diharapkan menjadi semacam pusat pengembangan vaksin untuk berbagai macam platform, yang saat ini sudah ada di dalam teknologi pengembangan vaksin. Kemristek juga akan membantu institusi yang sedang mengembangkan bibit vaksin Merah Putih, untuk mendapat perusahaan mitra di proses hilirisasi bibit vaksin dan produksi vaksin tersebut.

“Tentunya masing-masing tim ini akan kami pasangkan dengan industri untuk melakukan hilirisasi nantinya dan produksi. Tentunya industri-industri ini akan dikoordinasikan oleh Bio Farma, tetapi tentunya kita juga melibatkan perusahaan swasta untuk bekerja sama dengan Bio Farma dan melakukan hilirisasi dari bibit vaksin yang dikembangkan oleh keenam institusi tersebut,” tandas Menristek Bambang. (Ant)

Lihat juga...