Peningkatan SDM hingga Anggaran Pembinaan, Persoalan Olah Raga Indonesia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Potensi dan bakat individu sebagai calon atlet yang dimiliki Indonesia, sangat berlimpah. Namun persoalannya, sejauh ini prestasi bidang olah raga yang diraih, khususnya di kancah internasional, seakan jalan di tempat.

“Penduduk kita 260 juta lebih, SDM (calon atlet) banyak, namun prestasi olahraga kita belum optimal. Ini pasti ada sesuatu yang belum sesuai dalam prosesnya. Untuk itu, pemerintah perlu membuat grand design keolahragaan nasional (GDKN), sebagai panduan untuk meningkatkan prestasi olahraga atlet Tanah Air,” papar praktisi sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes, Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, dalam Uji Publik GDKN di salah satu hotel di Kota Semarang, Jumat (18/12/2020).

Rektor Unnes, Prof. Fathur Rokhman bersama Dekan FIK Unnes, Prof. Tandiyo Rahayu, dalam Uji Publik GDKN di salah satu hotel di Kota Semarang, Jumat (18/12/2020). Foto: Arixc Ardana

Dijelaskan, tantangan terbesar dunia olahraga saat ini pada segi anggaran, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan teknologi.

“Pemerintah harus memberi penganggaran yang masuk akal. Ini tidak bisa ditawar, negara lain anggarannya bisa lima kali lipatnya,” jelasnya.

Dalam kegiatan uji publik yang digelar hasil kerjasama Unnes dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tersebut, Tandiyo kembali menegaskan, alokasi anggaran ini nantinya bisa digunakan untuk beragam kepentingan. Termasuk dalam peningkatan SDM di setiap cabang olahraga yang ada.

“Jadi anggaran tidak hanya untuk pembelian alat, namun juga keseluruhan, termasuk peningkatan SDM pelatih. Ini juga menjadi syarat utama, agar olahraga dari para atlet Indonesia dapat meraih prestasi dan mendunia,” lanjutnya.

Lalu terbatasnya venue untuk latihan dan pertandingan tingkat internasional termasuk untuk anak usia dini, kepengurusan tingkat nasional dan daerah yang tidak aktif, optimalisasi sekolah olahraga agar dapat menghasilkan atlet bermutu, juga termasuk kendala yang dihadapi saat ini.

“Pembinaan atlet muda harus disiapkan dari semua cabor. Pembinaan ini tentu juga berkaitan dengan anggaran dan SDM pelatih. Untuk bisa menghasilkan atlet yang berprestasi, kedua hal tersebut juga gandeng geret (ikut serta-red). Tidak bisa berharap atlet berprestasi, namun anggaran untuk uji tanding tidak ada, fasilitas tidak punya, SDM pelatih pas-pasan. Jadi harus saling mendukung,” tegasnya.

Lihat juga...