Pentingnya Protein Mencegah ‘Stunting’ pada Anak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

“Dari empat bulan sudah bisa mulai diperkenalkan. Tahap pertama, ya pengenalan rasa. Bayi diberikan kesempatan mengenali dan menyesuaikan pada rasa selain ASI yang tidak memiliki rasa,” kata Sitti.

Pilihannya, bisa buah pisang, yang diberikan dengan intervensi 1-2 kali sehari, dalam periode 3-5 hari. Dan bisa dilanjutkan dengan jenis buah lainnya, seperti jeruk manis.

“Selanjutnya, masuk ke tahap pengenalan karbo, dimana anak akan mendapatkan sumber sukrosa, fraktosa dan galaktosa. Baru saat enam bulan, masuk ke makanan pendamping, yang berupa bubur saring,” urainya.

Ia menegaskan bahwa bubur pendamping ini, sebaiknya disaring, jangan diblender. Karena dengan disaring, maka makanan tidak akan halus secara keseluruhan.

“Untuk dua minggu awal, bentuknya bisa hasil saringan semuanya. Tapi masuk ke minggu ketiga, mulai ditingkatkan level kekasarannya. Hingga secara bertahap, bubur tersebut bisa dari bubur saring ke makanan lembek,” paparnya lebih lanjut.

Untuk asupan protein, Sitti menekankan pentingnya pemilihan protein yang tidak memicu alergi pada anak.

“Misalnya, untuk telur, di awal yang diberikan kuningnya saja. Karena putih telur itu memang memiliki potensi menimbulkan alergi. Atau jenis makanan laut, sebaiknya diperhatikan dulu kecenderungan alergi anak sebelum memberikan udang atau seafood lainnya,” ungkapnya.

Ia menekankan, sebaiknya orang tua juga tidak hanya berpatokan pada ikan yang disebut sebagai ikan yang mengandung protein tinggi.

“Setiap orang dari wilayah tertentu memiliki kecocokan dengan makanan atau ikan yang ada di daerahnya. Kalau orang bule, cocok dengan ikan Salmon, ya kita di Indonesia bisa ada alternatif lainnya. Bisa ikan air tawar atau ikan laut. Variasinya banyak. Jadi tidak boleh berpatokan hanya pada ikan itu saja,” ucap Sitti.

Pilihan unggas juga bisa diberikan pada anak dalam masa MP-ASI.

“Pilihan unggas bisa diberikan. Misalnya, ceker ayam yang digunakan sebagai bahan kaldu. Kalau memang mencukupi, ya alternatifnya daging. Yang penting, sumber protein banyak, tinggal ibu yang meramu untuk anaknya,” pungkasnya.

Lihat juga...