Penumpang Kapal di Natal dan Tahun Baru Turun 59 Ribu

Sejumlah calon penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya – Foto Ant

SURABAYA – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, yang mengelola 43 pelabuhan di tujuh provinsi mencatat, terjadi penurunan penumpang kapal yang melalui pelabuhan setempat hingga 59 ribu orang. Tercatat di tahun lalu ada 98 ribu penumpang kapal pada masa Natal dan Tahun Baru 2020.

Sementara di tahun ini, hanya ada 39 ribu penumpang. VP Corporate Communications Pelindo III, R Suryo Khasabu mengatakan, penurunan yang cukup besar tersebut tak lepas dari kondisi pandemi COVID-19. Serta imbauan untuk tidak bepergian, sehingga sejumlah syarat untuk bisa bepergian yang ditetapkan pemerintah, menjadi pertimbangan bagi para calon penumpang untuk melakukan perjalanan.

Total catatan jumlah penumpang itu adalah untuk pergerakan sejak H-7 hingga H-1 Perayaan Hari Besar Natal di 43 pelabuhan, yang tersebar di tujuh provinsi, masing-masing Jatim, Jateng, Bali, Kalteng, Kalsel, NTB dan NTT. “Untuk saat ini masih stabil dan tidak mengalami lonjakan yang berarti,” kata Suryo.

Untuk Natal dan Tahun Baru saat ini, penumpang tertinggi tercatat di Pelabuhan Tenau Kupang, yang mencapai 8.400 orang penumpang. Selanjutnya disusul Pelabuhan Tanjung Perak sebanyak 6.400 orang dan Pelabuhan Maumere sejumlah 3.000 orang.

Suryo menyebut, Pelindo III telah menyiapkan pos koordinasi terpadu angkutan Nataru, yang didukung petugas dari berbagai instansi untuk menjamin kelancaran dan keamanan hingga ditegakkannya protokol kesehatan COVID-19. “Pos tersebut beroperasi dari 18 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021. Beberapa fasilitas pendukung kami siapkan, untuk terpenuhinya protokol kesehatan, mulai dari fasilitas untuk cuci tangan, cairan pembersih tangan, tempat pemeriksaan dokumen kesehatan, alat pengukur suhu tubuh, hingga petugas yang berkeliling untuk menegakkan protokol kesehatan,” katanya.

Dessy Arwang, salah seorang penumpang KM Sinabung tujuan Tanjung Perak – Sorong, Papua menyebut, dirinya memilih pulang ke daerah asalnya untuk merayakan Natal bersama keluarga. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Surabaya itu memilih menggunakan kapal laut, karena harga yang lebih terjangkau jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. “Waktu tempuh sekitar lima hari, saya akan beberapa bulan di Sorong karena kegiatan perkuliahan juga dilakukan secara daring,” katanya.

Dessy menyebut, sejumlah persyaratan kesehatan yang diwajibkan bukan hal yang patut ditakuti, sebab hal itu hanya sebagai formalitas, serta sebagai upaya untuk saling melindungi baik antarpenumpang maupun keluarga di kampung halaman. (Ant)

Lihat juga...