Lebaran CDN

Perantaraan Qalam

OLEH HASANUDDIN

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan Qalam” (QS. Al-Alaq: 19 ayat 4).

Pada umumnya mufassir klasik, hingga dewasa ini menafsirkan kata “qalam” dalam ayat ini dengan pena atau alat tulis. Tentu saja pengertian seperti itu kita dengan mudah menerima jika hanya fokus kepada kata ” qalam”, berbeda hanya dengan ketika kata “qalam” ini kita coba maknai dalam sebuah frase kalimat “perantaraan qalam”. Dari mana sisipan kata “perantaraan” ini diperoleh? Dari firman Allah swt pada surah Asy-Syuura ayat  51;

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (51)

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”

Maka pengajaran Allah kepada manusia itu meniscayakan adanya “hijab” atau perantara.

Keniscayaan adanya perantara ini, dikarena manusia tidak dibekali potensi kemampuan untuk melihat langsung Zat Allah Yang Maha Suci, sebagaimana yang Allah sampaikan kepada Nabi Musa as., pada Surah al-A’raf ayat 143;

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ (143)

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”

Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.”

Tatkala Tuhannya menampakkan diri pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau, dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Maka pembicaran Allah dengan Nabi Musa as., mesti dipahami bahwa memang terjadi secara langsung, dalam arti, wahyu yang diterima Musa tidak disampaikan oleh utusan berupa malaikat (Jibril) namun tetap saja bahwa pembicaraan tersebut “diantarai” oleh hijab.

Pada ayat yang berkisah tentang pembicaraan Allah dengan Musa ini, juga sekaligus kita diberi analog yang dapat menjadi penjelasan seperti apa “perantaraan qalam” yang di maksud pada surah al-Alaq ayat 4.

Perhatikanlah ketika Allah meminta Musa melihat ke gunung, yang membuat gunung itu serta merta hancur oleh terangnya cahaya yang terpancar dari Allah. Maka jelas sudah bahwa perantara yang dimaksud oleh Allah dalam mengajari manusia itu, adalah cahaya. Cahaya di sini bisa dipahami sebagai ilmu, bisa pula dipahami sebagai sarana untuk melihat. Karena tanpa cahaya bagaimana mungkin manusia bisa membaca, menulis atau menggambar sesuatu.

Dalam perkembangan peradaban modern, perkembangan sains, alat tulis juga mengalami perkembangan kemajuan. Sebab itu misalnya komputer, smartphone atau alat canggih untuk menulis dan mengirim data, semuanya dapat diartikan sebagai “qalam”. Dan perlu disadari, bahwa seberapa hebat pun manusia dalam memajukan peradaban tulis-menulis mereka, keberadaan cahaya merupakan suatu yang niscaya sebagai “perantara”. Baik untuk menulis, menggambar maupun dalam pengiriman data.

Demikianlah Allah mengajari manusia dengan memberinya inspirasi, ilham atau pada level nabi disebut wahyu, melalui perantaraan cahaya.

Semoga Allah SWT senantiasa menambahkan ilmu-Nya bagi kita semua. ***

Depok, 25 Desember 2020

Lihat juga...