Perguruan Tinggi Rentan Terpapar Paham Radikalisme

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY, menilai, perguruan tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan yang paling banyak disasar pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan paham-paham radikalisme dan terorisme.

Sebanyak 19 persen perguruan tinggi di Indonesia saat ini bahkan dikatakan telah terjangkit atau tersusupi kelompok-kelompok radikal yang tak henti berupaya menularkan paham-paham mereka sehingga dapat mengancam keutuhan NKRI.

“Melalui lembaga penelitian yang ada, GP Ansor telah meneliti dan menyatakan bahwa perguruan tinggi sangat rawan terhadap bahaya pencucian otak dan ideologi kekerasan. Sebanyak 19 persen perguruan tinggi di Indonesia, saat ini bahkan sudah terjangkit virus tersebut. Karena itu negara harus hadir untuk menyelamatkan generasi muda,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DIY, Muhammad Syaifudin, di sela acara Pra Konfecab GP Ansor Sleman, bertempat di Pondok Pesantren Jauharul Aitaam, Sumberadi, Mlati, Sleman, Kamis (17/12/2020).

GP Ansor DIY sebagai salah satu pimpinan wilayah klaster 1 di Indonesia, yang memiliki tugas utama membantu pemerintah, mengaku selama ini aktif terlibat dalam upaya memerangi penyebaran paham-paham radikalisme dan terorisme di lingkungan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi.

Salah satu alasannya adalah karena di wilayah DIY terdapat begitu banyak kampus dengan ratusan ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah.

“Jika dibiarkan tentu ini akan sangat berbahaya. Karena kelompok ini telah memiliki kader-kader yang menyusup ke posisi-posisi penting organisasi kemahasiswaan. Sehingga mereka mampu menggerakkan ribuan mahasiswa untuk melakukan sesuatu termasuk aksi demonstrasi dan sebagainya,” katanya.

Salah satu upaya GP Ansor DIY dalam memerangi penyebaran paham radikal di lingkungan kampus tersebut  dengan menyiapkan pemateri-pemateri berwawasan kebangsaan. Yang bertugas mengisi forum-forum yang digelar organisasi kemahasiswaan di kampus-kampus DIY.

“Selama ini kita selalu melakukan pendekatan dan bekerjasama dengan organisasi mahasiswa. Dimana kita menyiapkan Ansor sebagai pemateri-pemateri berwawasan Nusantara. Sebagai penyeimbang ideologi radikalisme di kampus. Ansor hadir di kampus, melalui acara-acara atau forum-forum kemahasiswaan,” katanya.

Diharapkan melalui upaya tersebut, penyebaran paham-paham radikal di lingkungan kampus yang ada di DIY pun dapat diminimalisir. Meskipun hal tersebut harus tetap ditindaklanjuti secara serius dan menyeluruh oleh pihak-pihak terkait, dalam hal ini pemerintah.

Lihat juga...