Permintaan Stabil Jaga Eksistensi Usaha Kecil Tungku Tanah di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Ketelatenan Budiono terlihat saat melakukan proses pembuatan tungku. Campuran tanah liat, abu sekam padi dengan air dibentuk menjadi tungku berbentuk bulat. Alat pencetak khusus dari kayu digunakan sebagai pola yang digunakan untuk menghaluskan. Butuh proses setengah jam membentuk selanjutnya dijemur.

Sehari Budiono bisa membuat sekitar puluhan tungku ukuran kecil. Ukuran besar bisa dibuat lebih sedikit, karena lebih rumit. Proses pembuatan dilakukan bersama sejumlah pekerja sehingga dapat memenuhi permintaan pengecer. Dalam sebulan ia kerap memenuhi kuota permintaan hingga 500 tungku dari satu pengecer.

Permintaan berasal dari wilayah Banten dan Jawa Barat. Selain itu, ia juga mengirim ke wilayah Sumatera Selatan. Kebutuhan tungku tanah liat sebutnya banyak digunakan pada wilayah pedesaan yang memiliki bahan bakar kayu melimpah. Di perkotaan tungku tanah liat banyak digunakan oleh pemilik usaha warung makan.

“Konsumen utama para pemilik usaha warung makan yang mempergunakan arang sebagai bahan bakar untuk menghemat penggunaan gas dan listrik,terlebih untuk memasak air dan makanan yang butuh dipanaskan dalam waktu lama,” terang Budiono saat ditemui Cendana News, Selasa (8/12/2020)

Hindari terkena hujan, pengrajin tungku tanah liat di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan membuat kumbung beratapkan plastik, Selasa (8/12/2020). Foto: Henk Widi

Permintaan stabil pada alat pemasak tradisional tungku tanah liat membuat eksistensi usaha kecil Budiono tetap bertahan. Ia mengaku tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19 karena bahan baku tanah, sekam bisa diperoleh dari wilayah pedesaan. Distribusi ke sejumlah pengecer luar daerah tetap bisa dipenuhi dengan harga sama. Ukuran kecil dijual seharga Rp30.000, ukuran besar Rp50.000 pada level produsen.

Kendala produsen tungku tanah liat kala penghujan sebutnya pengeringan yang terhambat. Ia kerap harus menyiapkan plastik penutup agar saat hujan turun bisa diselamatkan. Proses pengeringan menggunakan kumbung berupa rumah bambu beratapkan plastik efektif menjaga tungku cepat kering.

“Proses pembakaran butuh waktu maksimal dua hari tungku sudah matang dan siap dikirim setelah dingin,” cetusnya.

Kasiman, produsen lain di desa yang sama menyebut tungku tanah liat masih diminati. Bahan baku dari sekam yang banyak berasal dari limbah penggilingan padi mudah diperoleh dari wilayah Palas. Selain itu tanah liat dan campuran tanah biasa bisa diperoleh dari kecamatan Sragi.

“Selama bahan baku terpenuhi dan permintaan stabil produksi akan terus dilakukan memenuhi kebutuhan hidup,” cetusnya.

Usaha kecil tersebut sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar. Sebab sebagian warga yang membantu menjadi buruh pembuatan tungku akan mendapat upah rata rata Rp5.000 per tungku ukuran kecil dan Rp10.000 untuk  ukuran besar. P

Pembuatan tungku sekaligus jadi sarana untuk lapangan pekerjaan kala pandemi. Meski tetap bertahan ia menyebut sebagian modal diperoleh dari pinjaman dari bank. Adanya kemudahan dalam relaksasi kredit untuk angsuran sebut Kasiman membantu produsen tungku tanah liat.

Ia memastikan angsuran tetap terbayar hanya rentang waktu pelunasan telah diperpanjang. Sebagian modal yang digunakan untuk pembelian bahan baku dan upah pekerja menjadi cara agar usahanya tetap berjalan. Meski penghujan ia tetap berproduksi dengan membeli plastik penutup.

Konsumen tetap tungku tanah liat sebutnya masih membuka peluang usaha baginya. Pada masa pandemi Covid-19 ia menyebut sebagian masyarakat yang memilih berhemat memakai tungku tanah liat untuk memasak. Usaha tersebut sekaligus mendukung sejumlah usaha lain seperti pembuatan kerupuk kemplang dan kuliner di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.

Lihat juga...