Petani Cabai di Lamsel Raih Untung di Akhir Tahun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani di Lampung Selatan, mengaku diuntungkan dengan harga komoditas sayuran dan bumbu yang meningkat di penghujung akhir tahun ini. Utamanya, petani cabai merah dan cabai rawit.

Heri, salah satu petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, menyebut budi daya sayuran jenis cabai merah dan cabai rawit mulai memperlihatkan hasil menggembirakan. Di tingkat petani, harga cabai merah dan cabai rawit mencapai Rp65.000 dan di tingkat pedagang dijual Rp80.000 per kilogram.

Kenaikan harga jelang akhir tahun, sebut Heri, memberi keuntungan pada budi daya cabai yang dilakukannya. Tanaman cabai merah dan rawit potensial dibudidayakan secara polikultur. Jenis cabai rawit merupakan tanaman bumbu dapur yang bisa bertahan maksimal satu tahun. Penanaman sejak awal tahun, masih menghasilkan buah, meski mulai kurang maksimal.

Heri menanam ratusan tanaman cabai rawit ditumpangsarikan dengan pisang, tanaman buah alpukat, jengkol dan durian. Menghasilkan rata-rata satu ons setiap pohon, ia bisa memanen 50 kilogram sekali panen.

Heri (kiri), petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, melakukan proses pemanenan cabai rawit yang ditanam secara tumpang sari bersama tanaman pisang, Senin (28/12/2020). -Foto: Henk Widi

Sistem pemilihan cabai siap panen dilakukan olehnya untuk mendapatkan cabai berkualitas. Pengepul yang akan menjual buah cabai kerap memesan minimal sepuluh kilogram.

“Petani saat ini bisa mendapat keuntungan dengan naiknya harga komoditas pertanian, dipengaruhi oleh musim penghujan berimbas pembusukan buah, tanaman cabai milik saya bisa berbuah karena ternaungi pepohonan,” terang Heri, saat ditemui Cendana News, Senin (28/12/2020).

Heri bilang, selain cabai merah dan cabai rawit, lahan di perbukitan Pematang Malang ditanami jenis tanaman bumbu lainnya. Berbagai jenis tanaman bumbu yang ditanam meliputi kencur, kunyit, jahe dan jeruk. Tanaman jeruk jenis purut dan jeruk sate, dipanen dalam bentuk daun dan buah. Sementara tanaman jahe, kencur, kunyit, jahe dipanen dalam bentuk rimpang.

Harga komoditas bumbu yang ditanam, per kilogram dijual Rp3.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Jenis tanaman jeruk yang dipanen dijual dalam bentuk daun Rp4.000 per kilogram, dan buah Rp7.000 per kilogram. Permintaan komoditas bumbu tersebut diperuntukkan bagi pasar lokal dan wilayah Banten. Pengiriman dilakukan setiap pekan oleh pengepul.

“Kenaikan harga sejumlah komoditas pertanian, terutama bumbu memberi hasil yang cukup lumayan bagi petani,” cetusnya.

Wiyono, petani sayuran di Desa Kelaten, Penengahan, menyebut dampak penghujan berimbas budi daya kerap terkendala. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan hama ulat daun, pembusukan dan gagal panen. Dampaknya, komoditas sayuran pada pemasok, terutama petani, berkurang, dan mengakibatkan kenaikan harga. Sayuran jenis kangkung, sawi, bayam, semula dijual Rp1.000, naik menjadi Rp2.000 per ikat.

Kenaikan harga tersebut cukup wajar, karena biaya operasional petani lebih besar. Pengeluaran biaya ekstra dilakukan petani untuk pembelian pestisida, waring dan pupuk. Kenaikan harga sayuran, sebut Wiyono imbas distribusi dari wilayah lain terhambat. Sebab, wilayah pemasok dari Lampung Barat sebagian akses jalan mengalami banjir.

“Kenaikan harga komoditas pertanian dipengaruhi cuaca, namun sekaligus untungkan petani jelang akhir tahun,” bebernya.

Sumini, pedagang sayuran dan bumbu dapur di pasar Pasuruan menyebut pedagang menaikkan harga sebelum Natal. Jelang Tahun Baru, ia menyebut harga komoditas sayuran dan bumbu naik. Kenaikan harga komoditas pertanian paling terlihat pada cabai merah, cabai rawit, yang mencapai Rp80.000 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dari sebelumnya, Rp30.000 per kilogram.

Naiknya harga itu sudah terjadi dari distributor. Imbasnya, konsumen memilih membeli cabai dalam jumlah terbatas. Sejumlah ibu rumah tangga membeli terbatas minimal seperempat kilogram. Penyebab utama komoditas pertanian yang naik, distribusi terhambat imbas akses jalan rusak dan hasil panen rusak oleh hujan.

Lihat juga...