Petani di Sikka Lebih Senang Tanam Jagung Varietas Lokal

 Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Hujan yang mengguyur Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sejak akhir November lalu, membuat para petani jagung mulai membersihkan lahan untuk ditanami. Para petani di Kecamatan Kangae yang merupakan sentra penghasil jagung di Kabupaten Sikka, sebagian besar sudah mulai menanam jagung, bahkan di beberapa desa, jagung terlihat sudah berumur sekitar dua minggu.

“Saya mulai tanam jagung tanggal 25 November lalu saat mulai turun hujan. Sebelumnya, lahan sudah saya bersihkan sejak Oktober,” kata Koleta Peta, petani jagung di Desa Habi, Kecamatan Kangae, saat ditemui Cendana News di lahan jagungnya, Senin (14/12/2020).

Koleta mengaku lebih memilih menanam jagung lokal, apalagi dirinya tidak bergabung dalam kelompok tani, sehingga tidak mendapatkan bantuan benih dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Koleta Peta, petani jagung Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di lahan jagungnya, Senin (14/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menyebutkan, benih jagung lokal yang ditanamnya pun dipinjam dari warga di desanya yang masih memiliki stok benih jagung lokal sisa panen musim tanam 2018/2019 lalu.

“Saya tidak ada persediaan benih sama sekali, karena musim tanam tahun lalu mengalami gagal panen akibat terserang hama ulat grayak. Banyak jagung yang tidak tumbuh subur, karena mengalami kekeringan dan mati,” ungkapnya.

Koleta saat ditemui juga mengaku menanam dan membersihkan rumput sendirian, dan sedang menanam kacang sayur lokal di sela-sela tanaman jagung dan singkong yang tampak tumbuh subur.

Hal senada juga disampaikan Fransia Nona, petani jagung Desa Habi yang ditemui di kebun lahan jagung, yang diakuinya merupakan tanah milik orang, sementara dirinya hanya penggarap saja.

Fransia mengaku lebih tertarik menanam benih jagung lokal, sebab lebih tahan serangan hama dan benih yang ditanam pun hampir semuanya tumbuh dengan baik dibandingkan menanam benih jagung bantuan pemerintah.

“Tahun lalu pun saya mengalami gagal panen, sehingga tidak ada stok benih. Saya membeli benih jagung lokal sendiri agar bisa ditanam. Sebab, benih jagung bantuan pemerintah saat ditanam banyak yang tidak tumbuh,” ujarnya.

Fransia mengatakan, hasil panen jagung dibagi dengan pemilik lahan, sementara dirinya memiliki kewajiban mempersiapkan lahan, benih, pupuk hingga menyewa tenaga kerja untuk menanam dan membersihkan rumput di sela-sela tanaman jagung.

Dia mengharapkan, musim tanam tahun ini curah hujan mencukupi sehingga hasil panen bisa melimpah. Tidak seperti musim tanam tahun lalu yang hasilnya anjlok.

“Saya tanam jagung lokal akhir November lalu saat hujan pertama, sehingga tanaman jagungnya sudah berumur dua minggu lebih. Mudah-mudahan, bisa mendapatkan hasil yang memuaskan,t idak terserang hama,” harapnya.

Lihat juga...