Petani Jagung di Lamsel Tahun Ini tak Kesulitan Pupuk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masa penanaman jagung kala musim penghujan atau rendengan, mulai dilakukan petani di Lampung Selatan. Untuk itu, sejumah petani pun mulai menyiapkan sejumlah pupuk yang dibutuhkan.

Arisanto, petani di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, menyebut satu hektare lahan diperlukan 800 kilogram pupuk. Jenis pupuk yang digunakan berupa urea, NPK phonska dan SP-36. Kebutuhan pupuk telah disiapkan sepekan sebelum pemupukan.

Pemupukan tanaman jagung pertama yang dilakukan saat usia tiga pekan, berbarengan dengan musim penghujan. Kebutuhan pupuk bersubsidi tetap bisa dipenuhi olehnya dengan mengajukan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Selama dua kali masa pemupukan, masing-masing diberikan pupuk sebanyak 400 kilogram. Sebagai cadangan dua kuintal, ia memakai tambahan pupuk nonsubsidi.

Arisanto, salah satu pemilik lahan jagung di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, melakukan pemupukan tahap pertama memakai urea, NPK, Phonska, Senin (14/12/2020). -Foto: Henk Widi

Arisanto bilang, alokasi pupuk bersubsidi masih bisa dipenuhi petani yang tergabung dalam kelompok tani. Pendistribusian pupuk telah dilakukan di salah satu toko pertanian yang telah ditunjuk. Tergabung dalam kelompok tani, memungkinkannya untuk bisa mendapatkan pupuk tepat waktu. Sebab, sebagian petani telah melakukan deposit uang pembelian ke rekening kelompok.

“Satu kelompok beranggotakan sekitar 10 orang lebih bisa mendapat kuota hingga 15 ton sesuai kebutuhan, karena sebagian petani memiliki luas lahan berbeda, kami tidak pernah telat karena pupuk telah ada di gudang toko pertanian setelah dikirim oleh distributor,” terang Arisanto, saat ditemui Cendana News, Senin (14/12/2020).

Harga pupuk Urea dan NPK Phonska, sebutnya, mencapai Rp260.000 per kuintal. Membutuhkan sebanyak 800 kilogram dan cadangan 200 kilogram, ia harus menyiapkan Rp2,6juta. Cadangan pupuk tetap diperlukan untuk pemupukan tahap ke dua. Selain pupuk kimia jenis pupuk organik dan cair tetap diperlukan, untuk pertumbuhan tanaman jagung.

Agus Irawan, petani lain di Desa Bakauheni, juga mengaku tidak mengalami kesulitan pupuk. Kebutuhan pupuk bersubsidi bagi petani penanam jagung pada masa tanam rendengan terpenuhi dengan baik. Sekali proses pemupukan lahan seluas dua hektare, ia bisa menghabiskan 16 kuintal pupuk. Pemupukan dilakukan dengan sistem upahan.

“Proses pemupukan kerap membutuhkan tenaga kerja hingga sepuluh orang, jadi biaya operasional tinggi,” terangnya.

Meminimalisir penggunaan pupuk kimia, Agus Irawan juga mempergunakan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik dilakukan memakai jenis pupuk kompos dan kandang. Pengaplikasian pupuk organik dilakukan seusai proses pengolahan lahan. Pembuatan guludan dilakukan untuk memperlancar irigasi pada lahan perbukitan. Kala penghujan, pembuatan guludan sekaligus menghindari pupuk terbawa hujan.

Ketersediaan pupuk bersubsidi yang lancar saat masa tanam jagung, membantu petani.

Subamio, petani jagung di Bakauheni juga menyebut menanam jagung pada musim penghujan cukup menguntungkan. Sebab, potensi tanaman tumbuh cukup tinggi. Namun, usai masa pemupukan pertama kendala hama ulat daun dan gulma rumput, kerap menyerang.

Pemupukan yang dilakukan kerap menambah subur tanaman jagung. Sebagai cara mengatasi gulma rumput, ia menggunakan herbisida. Pengurangan gulma dilakukan usai pempupukan, agar tanaman tidak berebut nutrisi dari pupuk yang ditaburkan. Proses penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan proses pencabutan dan penyemprotan herbisida.

“Biaya operasional penanaman jagung cukup tinggi, sehingga harapan petani harga jual sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” cetusnya.

Pada masa tanam musim kemarau atau gadu, petani menjual jagung pipilan seharga Rp3.500 hingga Rp3.700 per kilorgram. Harga tersebut belum menguntungkan bagi petani jagung, sebab idealnya jagung mencapai harga Rp5.000 per kilogram.

Lihat juga...