Petani Lamsel Diuntungkan dengan Mulai Membaiknya Harga Pisang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pergerakan harga komoditas pertanian pisang yang fluktuatif menyebabkan petani alami kerugian selama pandemi Covid-19. Faktor permintaan menurun disebabkan serapan untuk kuliner sempat terhenti.

Samsul Maarif, petani asal Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut lesunya ekonomi berimbas harga pisang anjlok. Selama pandemi Covid-19 permintaan yang menurun akibatkan harga turun signifikan hingga Rp3.000 perkilogram.

Memasuki masa adaptasi kebiasaan baru (new normal) ketika sejumlah sektor usaha pendukung mulai berjalan normal harga mulai merangkak naik. Mendekati hari raya Natal dan Tahun Baru, tren permintaan pisang mentah dan matang mengalami kenaikan.

“Sebagai petani saya memantau pergerakan harga yang sempat alami penurunan pada semester pertama tahun ini, namun semester kedua mulai membaik sehingga menguntungkan petani penanam,” terang Samsul Maarif saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (14/13/2020).

Samsul Maarif mengatakan, jenis yang paling banyak diminati diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Pertama untuk bahan pembuatan tepung di antaranya pisang ambon dan kepok. Jenis kedua untuk diolah dengan proses perebusan di antaranya tanduk, janten, raja. Jenis ketiga untuk buah segar yang disajikan matang meliputi ambon lumut, susu, barangan dan rajabulu.

Lihat juga...