Peternak Ayam Broiler Terancam Bangkrut Akibat ‘Oversupply’

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Ketua Perhimpunan Insan Pengunggas Rakyat Indonesia, Singgih Januratmoko mengungkapkan, oversupply Grand Parent Stock (GPS) masih menjadi persoalan serius yang dihadapi para peternak ayam rakyat di tanah air.

Menurutnya, persoalan oversupply GPS sudah muncul sejak kuartal IV 2018 dan terus berlangsung hingga saat ini, yang mengakibatkan harga ayam di pasaran jatuh. Puncaknya, harga ayam  menyentuh titik terendah pada Maret 2020, di kisaran Rp5.000 per kilogram.

“Banyak sekali peternak yang mengeluh karena rugi dan bahkan menutup usahanya karena harga ayam betul-betul buruk di tahun 2020,” ujar Singgih dalam kegiatan diskusi bertajuk Mengembalikan Kejayaan Pengunggasan Nasional, Senin (21/12/2020) secara virtual.

Berdasarkan catatannya, Singgih menyebut, pada tahun 2018 kuota impor GPS mencapai 742.827 ekor naik sebesar 71.916 ekor dibanding tahun 2017 yakni 671.911 ekor. Kemudian di tahun 2019 kuota impor GPS menurun sedikit menjadi 735.500 ekor, dan di tahun 2020 sebesar 650.000 ekor.

“Masalah lain yang juga ikut memperparah kondisi peternak yaitu harga sapronak yang melonjak, lalu harga pakan yang turut naik, dan ditambah lagi ada Covid-19 yang membuat permintaan menurun drastis,” jelasnya.

Mewakili para peternak ayam rakyat, Singgih menuntut agar Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal PKH dapat bersikap tegas dan konsisten menangani krisis harga livebird kurang lebih dua tahun ini.

“Dan kami juga berharap, Kementerian Pertanian bisa menciptakan suasana yang kondusif bagi usaha pengunggasan,” tukas Singgih.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nasrullah pada diskusi bertajuk Mengembalikan Kejayaan Pengunggasan Nasional, Senin (21/12/2020) secara virtual. -Foto Amar Faizal Haidar
Lihat juga...