Praktik Perkawinan Anak Turun 3,5 Persen dalam 10 Tahun

JAKARTA — Guru besar antropologi Universitas Indonesia Prof Meutia Hatta Swasono mengatakan praktik perkawinan anak di Indonesia hanya menurun 3,5 persen saja dari 2008 hingga 2018.

“Menurut data statistik UNICEF dan Puskapa UI bekerja sama dengan Bappenas dan BPS, Indonesia menempati posisi 10 besar di dunia dengan angka perkawinan anak tertinggi,” kata Meutia dalam seminar daring tentang perkawinan anak yang diselenggarakan Yayasan Mitra Daya Setara diikuti dari Jakarta, Senin (14/12/2020).

Perkawinan anak yang tinggi berdampak pada lama sekolah penduduk Indonesia. Hanya ada tiga provinsi yang rata-rata siswanya bersekolah sembilan tahun atau lebih, yaitu Aceh, Yogyakarta, dan Sulawesi Utara.

Sementara itu, siswa di provinsi-provinsi lain di Jawa, Jambi, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Maluku rata-rata hanya bersekolah delapan tahun. Lainnya hanya menempuh masa belajar rata-rata di bawah tujuh tahun, bahkan di Papua rata-rata hanya di bawah empat tahun.

Menteri Pemberdayaan Perempuan periode 2004-2009 itu mengatakan kondisi tersebut menggambarkan keadaan yang tidak diharapkan, apalagi dengan pembentukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak 1973 yang awalnya bernama Kementerian Muda Peranan Wanita.

Lihat juga...