Produksi Alkes Dalam Negeri Meningkat Tajam di Masa Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pandemi COVID 19 berhasil membuka celah bagi pengembangan alat kesehatan di Indonesia. Tercatat ada peningkatan 323,32 persen jumlah produksi alat kesehatan hasil inovasi anak negeri. 

Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kementerian Kesehatan (Kemkes) DR. Apt. I Gede Made Wirabrata, M.Kes, MM, menyatakan Kemkes mendorong peningkatan industri alkes. Diharapkan juga dapat terjadi pada produksi alat kesehatan berbasis teknologi nuklir. Sehingga mampu menurunkan tingkat impor alkes dan meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Pengembangan inovasi dan riset seputar alkes, kita harapkan mampu untuk meningkatkan jumlah alkes produksi dalam negeri. Harapannya, juga akan bisa meningkatkan alkes terkait teknologi nuklir,” kata Wirabrata dalam rangkaian talkshow online Ulang Tahun Batan ke-62, Selasa (1/12/2020).

Kemkes, lanjutnya, memberikan dukungan untuk pengembangan ini dengan menyusun rencana aksi dan juga langkah nyata dalam mendampingi maupun memberi kemudahan bagi pelaku penelitian dan pelaku industri alkes.

“Kami memberikan dukungan advokasi dan promosi, membentuk pokja, memberikan penghargaan bagi inovator anak bangsa, membantu mempercepat registrasi produk hingga bekerja sama untuk memasukkan produk inovasi tersebut ke e-catalog,” ujarnya.

Yang paling utama adalah melakukan sinergi dengan akademisi, pelaku bisnis dan komunitas.

“Sinkronisasi litbang dan industri ini penting dalam membangun transformasi bisnis alkes dan mendorong hilirisasi. Dan ini diharapkan juga akan terjadi pada alkes berbasis teknologi nuklir, yang saat ini tingkat impornya masih di atas 94 persen,” ujarnya lagi.

Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kementerian Kesehatan (Kemkes) DR. Apt. I Gede Made Wirabrata, M.Kes, MM dalam rangkaian talkshow online Ulang Tahun Batan ke-62, Selasa (1/12/2020) – Foto Ranny Supusepa

Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) DR Rohadi Awaludin menyatakan kebutuhan alkes berbasis teknologi nuklir didasari oleh berkembangnya kebutuhan diagnosa dan perawatan pada pasien terkait penyakit yang dideritanya.

“Berdasarkan data prevalensi kanker, pada periode 2013 dan 2018, terlihat jumlahnya meningkat dari 1,4 juta menjadi 1,8 juta,” kata Rohadi dalam kesempatan yang sama.

Memang alkes berbasis teknologi nuklir, 60 persennya digunakan pada bidang onkologi.

“Diikuti oleh pemanfaatan di bidang kardiologi sekitar 30 persen, tiroid, neurologi masing-masing sekitar 15 persen dan sisanya pada bidang diagnosa kesehatan lainnya. Dari sini terlihat bahwa kebutuhan akan alkes berbasis teknologi nuklir memang sudah tidak dapat diabaikan,” pungkasnya.

Lihat juga...