Produksi Tembakau Purbalingga Belum Mampu Penuhi Pasar

Editor: Koko Triarko

PURBALINGGA – Dinas Pertanan Kabupaten Purbalingga, terus mendorong para petani untuk budi daya tembakau, mengingat produksi tembakau di Purbalingga belum banyak, padahal pangsa pasar masih terbuka lebar.

Kepala Dispertan Purbalingga, Mukodam, mengatakan saat ini petani di beberapa desa di Kecamatan Karangreja, yaitu Desa Serang dan Kutabawa, sudah mulai lagi menanam tembakau. Namun, perlu didorong untuk petani lainnya supaya produksi tembakau Purbalingga meningkat.

“Dari data kami, sampai sekarang tercatat sekitar 13 hektare luas lahan tanaman tembakau di Kabupaten Purbalingga, dengan jumlah produksi sekitar 5,1 ton. Jumlah tersebut masih sangat jauh dari kebutuhan tembakau di pasaran,” terang Mukodam, Senin (14/12/2020).

Kepala Dinas PertanianKabupaten Purbalingga di kantornya, Senin (14/12/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Mukodam menjelaskan, produksi tembakau Purbalingga saat ini masih sebatas untuk konsumsi lokal, dan sebagian ada yang keluar dari Purbalingga, tetapi bukan untuk konsumsi pabrikan. Sehingga masih sebatas untuk konsumsi lokal masyarakat, yaitu untuk tingwe atau orang biasa menyebut nglinting dewe atau membuat sendiri.

Menurut Mukodam, masih terbukanya pangsa pasar tembakau ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para petani di Kabupaten Purbalingga. Perluasan budi daya tembakau, selain sebagai alternatif komoditas pertanian, juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Mengingat harga jual tembakau rajangannya cukup bagus.

“Jika produksi tembakau meningkat, dampaknya Pemkab Purbalingga juga dapat menaikkan porsi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT),” tuturnya.

Saat ini, di Purbalingga tercatat baru ada satu unit industri tembakau, yaitu yang berlokasi di Desa Karangjambe, Kecamatan Padamara.

Mengingat luasan lahan budi daya serta hasil tembakau saat ini masih kecil dan seluruh produk tembakau rajangan dapat terjual, saat ini belum terdapat kendala yang berarti. Tetapi, dalam rangka mengimbangi perluasan lahan budi daya yang terus meningkat dan jumlah produknya juga bertambah, tentu secara selaras perlu dilakukan tahapan fasilitasi untuk mendukung keberhasilan budi daya, sarana pengolahan serta akses pasar.

Sementara itu, salah satu petani di Purbalingga, Asnawi, mengatakan, keuntungan dari budi daya tembakau sebenarnya cukup mennggiurkan bagi para petani, karena belum banyak saingan. Namun, ia berharap adanya kepastian penjualan yang stabil, jika nantinya produksi tembakau sudah meningkat di Purbalingga.

“Kalau sekarang pasar tembakau di sini masih bagus, tetapi nanti jika jumlah petani yang budi daya tembakau bertambah, otomatis produksi meningkat, kita berharap harga tetap stabil, sehingga petani tidak merugi,” tuturnya.

Lihat juga...