Prospek Menjanjikan Budidaya Melon Golden Apollo

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Rasa buah yang manis, dengan berat antara 1-2 kilogram, melon golden apollo menjadi komoditas pertanian yang menjanjikan. Harga di pasaran pun relatif cukup tinggi, sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Lebih mahal dibanding jenis melon lainnya.

Beragam keunggulan melon golden apollo tersebut, menjadikan Dinas Pertanian Kota Semarang, mendorong budidaya melon tersebut ke para petani.

“Budidaya melon golden apollo, relatif mudah dan cepat. Tanaman ini bisa dipanen setelah 75 hari semenjak tanam,” papar Koordinator Petugas Agrowisata Purwosari Agus Prasetyo, saat ditemui di agrowisata tersebut, Senin (21/12/2020).

Dipaparkan, dalam budidaya melon, ada beberapa hal krusial yang harus diperhatikan. Salah satunya terkait serangan hama.

“Sebaiknya untuk meminimalisir hama, seperti ulat, belalang, atau jenis lainnya, bisa digunakan green house. Tujuannya agar lebih aman,” lanjutnya.

Koordinator Petugas Agrowisata Purwosari Agus Prasetyo, saat ditemui di agrowisata tersebut, Senin (21/12/2020). -Foto Arixc Ardana

Selain itu, untuk memaksimalkan pertumbuhan buah, diupayakan dalam satu pohon hanya ada satu buah.

“Tujuannya agar nutrisi dapat terserap sepenuhnya oleh tanaman, sehingga dapat menghasilkan buah yang lebih manis dengan ukuran besar,” lanjutnya.

Uniknya, meski pada habitat aslinya tumbuhan melon merambat di atas tanah, budidaya di Agrowisata Purwosari, justru dibuat merambat ke atas dengan bantuan tali rambat.

“Di sini, kita menerapkan pertanian urban farming, dengan memanfaatkan polybag sebagai media tanam. Untuk memaksimalkan luasan green house, tanaman tidak merambat ke samping namun ke atas. Selain itu, dengan merambat ke atas, juga untuk menghindari penyakit batang busuk, akibat terlalu banyak kena air,” lanjut Agus.

Perlu diperhatikan, bahwa melon apollo ini tidak boleh kena air secara langsung, sebab bisa rusak dan busuk.

Terlebih jika terkena air hujan, harus segera dicuci dengan air tawar dan dikeringkan, sebab air hujan sifatnya asam, bisa merusak buah.

“Jadi kalau berbuah, buah tersebut kita tali atau diberi wadah, kemudian digantungkan di penopang. Itu sebabnya, sebaiknya menggunakan green house atau rumah pelindung, sehingga tidak terkena air hujan secara langsung. Selain itu, juga relatif terlindungi dari hama, seperti belalang atau ulat,” lanjutnya.

Di satu sisi, jika biaya pembuatan green house terlalu mahal, bisa menggunakan rumah tutup plastik transparan, sehingga sinar matahari tetap bisa masuk.

Dalam budidaya, pemupukan juga harus dilakukan, setelah berumur 21 hari, pembudidaya harus menambahkan pupuk yang mengandung unsur kalium agar bunga tak cepat rontok.

Selain itu, pada musim penghujan, untuk menghindari jamur pada daun dan buah, dilakukan penyemprotan tiga kali seminggu, dengan menggunakan fungisida.

“Nantinya, melon Apollo bisa dipanen setelah 75 hari, dihitung mulai dari awal penanaman. Jika dihitung dari proses pembibitan, sekitar tiga bulan,” tambahnya.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, petani juga harus rajin memeriksa tanaman tiap hari. Jangan sampai ada hama, virus, atau penyakit lainnya, yang menyerang tanaman.

“Termasuk ulat, cek satu satu, kalau ada ya harus diambil. Memang harus teliti dan telaten, namun kerja keras ini sebanding dengan hasilnya,” ungkapnya.

Sementara, Kepala UPTD Kebun Dinas Pertanian Kota Semarang, Juli Kurniawan menambahkan, pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat atau petani, yang ingin belajar budidaya melon golden apollo.

“Bisa langsung datang ke Agrowisata Purwosari, Mijen, Kota Semarang atau ke Urban Farming Corner (UFC) Jalan Menteri Supeno Semarang. Kita terbuka bagi masyarakat yang ingin bertanya, terkait pertanian atau perkebunan. Tidak hanya soal melon, namun juga persoalan lainnya yang terkait,” pungkasnya.

Lihat juga...