Ragam Budaya di Calon IKN, Cerminan Kebhinekaan Indonesia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN), kawasan Kutai Kartanegara (Kukar) dan Paser Penajam Utara (PPU) memiliki pencampuran budaya yang menghasilkan wilayah Indonesia yang tinggi keragaman. Tapi, itu semua, membuat wilayah ini bisa dijadikan percontohan akan nilai Bhinneka Indonesia.

Arkeolog Prof. Ris. Truman Simanjuntak menyebutkan paling tidak ada sembilan budaya khas yang terpantau dari hasil penelitian arkeologi sepanjang 2020.

“Ada beberapa yang memang kita belum temukan situsnya. Tapi jika kita korelasikan dengan wilayah regional Kalimantan, kita akan melihat beberapa budaya khas yang mewarnai IKN. Ini bukan hanya budaya, tapi juga perubahan etnis yang menjadi suku akibat pengaruh masuknya Hindu, Budha dan Islam dan ragam etnis yang saat ini hidup damai secara sosial budaya di wilayah tersebut,” kata Truman dalam acara online terkait budaya, Minggu (27/12/2020).

Dari tahap kehidupan purba dan kehidupan modern awal, Truman menjelaskan, budaya khas yang muncul adalah paleolitik nomaden dan paleolitik hunian gua.

“Situs belum ditemukan di IKN tapi di regional ada paleolitik awang bangkal serta gua niah, leang jeriji saleh dan liang abu,” ucap Truman.

Untuk tahapan selanjutnya, yaitu akhir zaman es dengan budaya preneolitik hunian gua lanjut ditemukan di situs Gua Panglima, Sanggulan dan Tapak Batu. Pada tahapan Kedatangan Mongoloid dengan budaya neolitik sedentarisasi belum ditemukan situs di kawasan IKN. Tapi korelasi regional terlihat pada Liang Kawung, Nangabalang, Liang John dan Jambu Ilir.

“Memasuki tahapan protosejarah yang berbudaya paleometalik dengan situs Maridan dan Sepaku. Untuk tiga tahapan berikutnya, adalah yang paling banyak mempengaruhi keragaman etnis dan buaya di IKN, yaitu tahapan Hindu-Budha, tahapan Islam dan tahapan Kolonial,” urainya.

Untuk masa Hindu Budha, lanjutnya, bisa terlihat pada tujuh prasasti pada yupa di Bukit Berubus yang dikeluarkan Raja Mulawarman pada periode sekitar abad ke-4.

“Yang harus diteliti lebih jauh, kenapa di Muara Kaman. Selain itu, peradaban Hindu Budha juga terlihat pada Arca Nandi di Kotabangun dan kumpulan arca di Gunung Kombeng,” kata Truman menjelaskan.

Masa peradaban Islam diperkirakan muncul pada abad ke-16 dengan berkembangnya kesultanan di wilayah IKN, yang meninggalkan artefak berupa keraton dan masjid.

“Ada dua kesultanan, yaitu Kutai Kartanegara dan Pasir. Pasir inilah yang kini dikenal dengan Paser,” ujarnya.

Kesultanan Kutai Kartanegara berawal dari Kerajaan Kutai yang diwarnai dengan budaya Hindu yang berkembang pada abad ke-14 dengan raja pertamanya adalah Batara Agung Dewa Sakti di Anggana Kutai Lama dan berubah menjadi kerajaan Islam pada 1575 dan berakhir pada tahun 1960. Wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara semakin luas, saat Pangeran Sinum Panji Mendapa menguasai Kutai Martadipura yang berlokasi di Muara Kaman pada tahun 1635.

“Kesultanan Pasir tercatat berdiri tahun 1567 di Pasir Balengkong tepi Sungai Kendilo. Kesultanan ini menyatukan sub-sub suku Pasir yang terletak di wilayah perbatasan Kalimantan Selatan hingga Balikpapan,” papar Truman.

Sumber daya alam batubara yang ada di IKN mendorong perusahaan asing mulai masuk. Eksplorasi pertama yang dilakukan pemerintah hindia Belanda terjadi pada tahun 1860 dengan pengawasan asisten residen Kutai.

“Produksi pertama mencapai lebih dari 3 ribu ton. Pada 1888 berdiri perusahaan batu bara swasta yang bernama Oost Borneo Maatschapij. Waktu itu, sistemnya adalah mendapatkan royalti. Jadi bisa dibilang, kesultananan waktu zaman itu kaya,” paparnya lebih lanjut.

Eksplorasi minyak bumi sendiri, baru dimulai 1897 oleh Nederlandsch Indische Industrie en Handel Maatschapij, dengan tokohnya JH Menten. Lalu dibangun sumur-sumur yang diberi nama sesuai dengan nama anak Menten, yaitu Louise, Mathilda dan Nonny dengan sistem konsesi.

“Peradaban di masa Islam, Kolonial Belanda dan paska kemerdekaan ini lah akhirnya yang menghasilkan beragam etnis. Penduduk autochon yaitu Etnis Dayak dengan sub-etnis misal Ot-Danum, Punan, Apo-Kayan, Murut yang memeluk agama Islam atau Kristen mulai meninggalkan adatnya dan menyebut dirinya dengan nama berbeda. Misal Suku Paser, Suku Banjar atau Suku Kutai,” papar Truman lagi.

Sementara penduduk allochton, yang muncul saat industrialisasi kolonial dan transmigrasi di masa kemerdekaan, berasal dari berbagai etnis, yaitu antara lain Bugis, Banjar, Bajo, Mandar, Makassar, Jawa, Toraja, Manado, Madura dan Tionghoa.

“Dari hasil penelitian di lapangan, interaksi autochon dan allochton ini, benar-benar tidak ada masalah saat ini. Pengelolaan sumber daya dilakukan secara adat dan persetujuan bersama, toleransi yang tinggi dimana setiap adat budaya memiliki hak untuk menjalankan adatnya dan pemanfaatan sumber daya dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan,” ujarnya.

Dengan latar belakang ragam budaya ini, Truman menyatakan dalam membangun IKN haruslah mengedepankan karakteristik demografi sosial yang sarat akan kemajemukan dan toleransi.

“Harus diciptakan ruang-ruang budaya yang mengiringi perjalanan peradaban Kalimantan sebagai salah satu karakter IKN yang berkelanjutan. IKN menampilkan kebhinekaan tapi berinteraksi secara harmonis,” pungkasnya.

Lihat juga...