Relaksasi Pinjaman Ringankan Beban Pedagang di Masa Pandemi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Relaksasi kredit atau pinjaman, membantu para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Bandar Lampung. Pengurangan beban angsuran pinjaman, membuat para pedagang mampu bertahan di masa pandemi Covid-19.

Hartanto, salah satu pedagang makanan ringan, mengaku mendapatkan relaksasi kredit dari salah satu bank pemerintah. Relaksasi pinjaman dilakukan dengan penambahan tenor waktu pinjaman.

Normalnya sebelum Covid-19, ia harus membayar angsuran kredit setiap tanggal 20 per bulannya. Namun adanya keringanan kredit dengan penurunan suku bunga, membuat ia hanya membayar sebagian pokok pinjaman. Pembayaran kredit selama 36 bulan diperpanjang menjadi 40 bulan. Relaksasi kredit pada bank pemerintah itu telah diajukannya sejak awal Juni, dan disetujui awal Oktober.

Hartanto (tengah) pemilik usaha penjualan makanan ringan di pasar Bambu Kuning di Jalan Batu Sangkar, Tanjung Karang,Bandar Lampung, Selasa (1/12/2020). -Foto: Henk Widi

Relaksasi tersebut membuatnya tidak terbebani saat hasil penjualan merosot dan berimbas setoran bulanan menurun. Kredit yang diperpanjang, menurutnya menurunkan angsuran setiap bulan yang menjadi bebannya.

“Penjualan makanan ringan sebagai oleh-oleh alami penurunan imbas Corona, apalagi saat ini aktivitas masyarakat saat malam hari lebih berkurang, wisatawan yang datang ke Lampung menurun dan berimbas pada omzet penjualan,” terang Hartanto, saat ditemui Cendana News, Selasa (1/12/2020) malam.

Membuka usaha di Pasar Bambu Kuning, Jalan Batu Sangkar, ia kerap buka hingga malam hari. Berada di jantung kota Bandar Lampung dengan aktivitas ekonomi bergeliat hingga malam hari, ia bisa mendapat tambahan penghasilan. Kesulitan mencari pemasukan dimaklumi oleh pihak bank sebagai pemberi pinjaman kepadanya. Ia bahkan telah melakukan pemberian diskon untuk menarik pelanggan.

Hartanto bilang, strategi memberi diskon dilakukan untuk menarik minat konsumen. Banyaknya warga yang membutuhkan makanan ringan untuk camilan membuat ia menurunkan harga. Per kilogram makanan ringan yang semula dijual Rp30.000 hingga Rp50.000, rata-rata diturunkan Rp10.000 hingga Rp15.000.

“Karena saya mendapat relaksasi, harga juga saya turunkan, yang penting penjualan tetap lancar,” cetusnya.

Nurohman, pemilik usaha roti kering juga mendapat relaksasi kredit setelah mengajukan ke bank. Ia menyebut, sejumlah pelaku usaha UMKM mendapat bantuan tambahan modal. Namun, syarat tidak memiliki pinjaman bank, saldo di bawah Rp2juta membuat ia sulit memperoleh bantuan. Meski hanya mendapat bantuan relaksasi, cukup membantu usahanya selama pandemi Covid-19.

Pengurangan jumlah karyawan, sebutnya, juga menjadi salah satu solusi mengurangi biaya operasional. Kue kering yang bisa bertahan lama membantu dirinya masih bisa memasok ke sejumlah toko. Ia mengaku tetap akan menyelesaikan kewajiban mengembalikan pinjaman saat kondisi normal kembali. Penambahan waktu pinjaman tersebut, membantu untuk biaya operasional.

“Biaya penyiapan bahan baku pembuatan kue harus selalu ada, untuk operasional pengiriman kita terapkan sistem antar tanpa jasa kurir, menghemat biaya,” cetusnya.

Pelaku usaha lain, Sinaga, yang menjual suvenir dan makanan ringan mengaku sempat kesulitan membayar angsuran. Namun saat masa pandemi Covid-19, ia mendapat relaksasi kredit dari koperasi tempatnya meminjam modal. Ia juga menerapkan sistem penjualan dengan sistem titip dari pelaku usaha kecil. Cara tersebut membantu saat produk makanan dan suvenir belum terjual.

“Saat ini, pembelian sistem terputus mulai dikurangi karena ekonomi sedang lesu, ada barang laku terjual saja sudah untung,” cetusnya.

Mengandalkan pelaku perjalanan tujuan pelabuhan Bakauheni, ia membuka kios hingga malam hari. Lokasi strategis di Jalan Lintas Sumatra, Panjang, Bandar Lampung, menjadi tempat perhentian travel. Sejumlah penumpang kerap membeli oleh-oleh makanan ringan, suvenir dari kerang di kios miliknya. Hasil penjualan bisa dimanfaatkan untuk membayar angsuran kredit.

Lihat juga...