Relawan KJK Maumere Didik Anak-anak Pedalaman Wairbukan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Banyaknya murid usia Sekolah Dasar (SD) yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, membuat Komunitas Jalan Kaki (KJK) Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tergerak melaksanakan sekolah alam.

Setiap pekan pada Sabtu atau Minggu, relawan KJK Maumere menyambangi Kampung Wairbukan, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete dengan berjalan kaki membelah hutan sejauh sekitar 2 kilometer, untuk mengajar murid Pendidikan Layanan Khusus (PLK) Wairbukan.

“Metode pembelajaran yang dilakukan lebih kepada sekolah alam, anak-anak langsung diajar di alam terbuka,” kata Remigius Nong, relawan KJK Maumere saat ditemui Cendana News pada Kamis (10/12/2020).

Anggota Komunitas Jalan Kaki (KJK) Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Remigius Nong, saat ditemui di sekolahnya di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kamis (10/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Remi, sapaannya, mengatakan anak-anak diajak bermain, menyanyi dan berbagai mata pelajaran lain dengan memanfaatkan sarana pembelajaran yang ada di Kampung Wairbukan, yang berada di dalam kawasan hutan lindung.

Menurutnya, pembelajaran tidak dilakukan di dalam ruangan kelas, tetapi di aula Posyandu dan lebih banyak di alam terbuka seperti di pekarangan rumah maupun kebun milik warga.

“Kami juga melibatkan mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere dan relawan lainnya, termasuk anggota komunitas sendiri,” ungkapnya.

Remi menjelaskan, awalnya anak-anak dibentuk karakter mereka seperti disiplin, berani tampil dan tidak malu, kerja sama, kekompakan serta menumbuhkan rasa percaya diri mereka lewat berbagai permainan, menyanyi, menari dan lainnya.

Lewat metode pembelajaran sekolah alam, pihaknya menargetkan anak-anak akan lebih percaya diri, kepekaaan sosialnya muncul, pandai dalam berkomunikasi serta dapat melatih motorik dan mencintai alam.

“Selain membentuk karakter lewat berbagai permainan dan cara pembelajaran, kita juga ingin mengajarkan ilmu pengetahuan. Relawan dari berbagai profesi diberikan ruang untuk mengajar sesuai ilmu yang dimiliki,” ungkapnya.

Remi menambahkan, relawan KJK Maumere tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar murid Wairbukan, dan metode pembelajarannya pun tidak sama dengan pendidikan di sekolah dasar yang diajari di sekolah PLK yang ada di kampung ini.

Relawan KJK Maumere lainnya, Yasinta Nenti Odang, mengatakan seminggu sekali ditargetkan para relawan akan mengajar sejak pagi hingga sore di wilayah terpencil ini.

Nenti menyebutkan, pihaknya pun pernah mengadakan camping atau berkemah bersama anak-anak sekolah di alam terbuka di wilayah kampung tersebut. Dengan kegiatan tersebut, anak-anak diajari disiplin, percaya diri, berani serta mandiri.

“Sesudah berkemah, anak-anak diajari pelajaran dengan memanfaatkan sarana belajar yang ada di alam. Misalnya, matematika untuk berhitung dipergunakan batu atau biji asam,” ungkapnya.

Nenti mengakui, setelah beberapa kali mengikuti pembelajaran, anak-anak sudah mulai percaya diri ketika diminta untuk memperkenalkan diri di depan umum serta menjadi ketua kelompok.

“Sekolah alam ini sebagai bentuk bakti sosial dari para relawan komunitas untuk berbagi ilmu pengetahuan kepada anak-anak yang minim akses pendidikan, informasi apalagi teknologi,” ujarnya.

Lihat juga...