Ribuan Hektare Lahan Pertanian di Purbalingga Kembali Terendam

Editor: Koko Triarko

PURBALINGGA – Ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Purbalingga kembali terendam banjir. Sebagian besar merupakan lahan pertanian dan sebagian lagi adalah lahan tegalan.

Genangan air yang terjadi di lahan pertanian disebabkan air Sungai Klawing yang meluap karena hujan deras dalam kurun waktu yang cukup lama. Di Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, misalnya, ada 84 hektare area persawahan yang terendam banjir.

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, mengatakan dari pendataan sementara, lahan pertanian yang terdampak banjir ke dua ini mencapai 1.121 hektare. Area pertanian yang terdampak antara lain di Kecamatan Kemangkon dan Kecamatan Kaligondang.

“Dampak paling banyak di Kecamatan Kemangkon, ada sekitar 1.037 lahan pertanian yang terendam, di antaranya juga terdapat tegalan yang ditanami aneka buah-buahan,” jelasnya, Senin (21/12/2020).

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam di kantornya, -Dok: CDN

Dari pendataan Dinpertan Purbalingga, di Kecamatan Kemangkon, lahan tegalan yang terdampak banjir antara lain ditanami kedelai, jambu kristal, ketela pohon, pepaya, jagung serta terong. Sedangkan untuk area sawah yang sudah ditanami, usia tanaman baru masuk 15 hari.

Area pertanian yang terendam terdiri dari 241 hektare lahan sawah sudah tanam dan lahan olahan tanam persemaian seluas 622 hektare. Sehingga total kuas lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai 1.121 hektare.

“Lahan persawahan yang tergenang adalah lahan olah tanah tahap persemaian dan standing crops, umur tanaman paling tua 15 hari, bukan tanaman yang sedang dalam tahapan pengisian malai atau hampir panen, maka genangan air yang sampai tiga hari lebih tidak terlalu menyebabkan kerusakan yang berat,” kata Mukodam.

Menurutnya, sepanjang tanaman tidak tertutup lumpur dan tersapu arus deras, masih bisa bertahan. Tetapi bila tertimbun lumpur dan atau tersapu arus air deras, maka lahan siap tanam akan rusak sehingga perlu olah tanah untuk perbaikan lahan. Untuk persemaian yang rusak, tentu perlu semai ulang, begitu pula dengan tanaman standing crops.

Bila ini terjadi kerusakan, maka akan berdampak kerugian yang cukup besar bagi para petani dan menyebabkan mundurnya masa tanam akhir 2020 dan panen 2021.

Sementara itu di Kecamatan Kaligondang, ada dua desa yang terdampak lahan pertaniannya, yaitu Desa Penolih seluas 64 hektare dan Desa Cilapar 20 hektare. Lahan sawah yang terendam tersebut dalam tahap olah tanah dan persemaian.

“Di Kecamatan Kemangkon hampir semua desa terdampak lahan pertaniannya, ada 18 desa yang terdampak dari 19 desa yang ada di kecamatan tersebut dan di Kecamatan Kaligondang ada dua desa,” terangnya.

Salah satu petani di Purbalingga, Pujianto, mengatakan, pada banjir ke dua lahan pertanian yang terdampak meluas dan juga makin banyak lahan petani yang terendam.

“Intensitas hujan tinggi dan berlangsung lama, sehingga genangan air meluas, lahan yang terdampak juga bertambah banyak,” ucapnya.

Lihat juga...