Sampah Sumbat Saluran Irigasi Cemari Lahan Pertanian di Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Musim penghujan berimbas sejumlah sungai meluap disertai sampah terbawa banjir. Imbasnya sejumlah saluran irigasi terkoneksi dengan sungai dipenuhi sampah. Sampah plastik, sampah kaleng dan kemasan makanan berasal dari permukiman warga menyumbat saluran irigasi.

Marsudi, salah satu petani menyebut sampah berdampak gangguan lingkungan. Sampah yang dibuang ke sungai kerap mencemari lingkungan. Usai hujan berimbas banjir pada Sungai Way Asahan, Sungai Way Muloh akibatkan sampah menutupi bendungan.

Dampak langsung pintu saluran irigasi dipenuhi dengan berbagai jenis sampah. Selain bangkai, sampah mudah membusuk yang dibuang ke dalam kemasan plastik kerap terbawa ke areal persawahan.

Marsudi bilang, areal persawahan miliknya kerap mendapat kiriman sampah. Berbagai jenis sampah tersebut dominan jenis yang sulit terurai meliputi plastik kemasan makanan, kaleng, botol. Sampah sulit terurai tersebut kerap harus dibersihkan hindari pencemaran pada areal persawahan. Sampah botol kaca bekas minuman yang pecah kerap membahayakan petani.

“Pecahan botol kaca yang masuk ke areal persawahan akan sulit terurai selama puluhan tahun bahkan dalam jangka pendek membahayakan keselamatan semisal kaki menginjak pecahan botol berakibat luka serius, sampah berasal dari sungai oleh kegiatan pembuangan sampah sembarangan,” terang Marsudi saat ditemui Cendana News, Rabu (9/12/2020)

Upaya menjaga kebersihan lingkungan pada bagian hilir oleh petani, masyarakat pemanfaat sungai telah maksimal dilakukan. Namun Marsudi bilang sungai merupakan penampung aliran selokan dan sungai sungai kecil di bagian hulu. Saat kegiatan membuang sampah di selokan masih dilakukan lingkungan bagian hilir masih berpotensi tercemar khususnya areal persawahan.

Petani lain bernama Aming menyebut saat menyusuri air untuk pengairan sawah harus membersihkan sampah. Saat penghujan volume sampah bisa meningkat lima kali lipat dibandingkan kondisi normal. Sampah yang terbuang di selokan dan sejumlah sungai terbawa ke saluran irigasi berpotensi merugikan petani. Kerusakan lingkungan dengan jebolnya bangunan irigasi menjadikan kerugian secara ekonomis.

“Sumbatan pintu air oleh sampah berdampak ambrolnya tanggul yang terbuat dari semen, butuh perbaikan,” terangnya.

Sampah yang dibuang ke tepian sungai beberapa bulan sebelumnya saat penghujan akan terbawa ke bagian hilir. Dampak paling terasa berada pada titik bendungan sebagai saluran pembagi ke sejumlah jaringan irigasi sekunder dan tersier. Membludaknya saluran air imbas sampah berdampak bagi lingkungan sekitar. Kesadaran warga di bantaran sungai agar tidak membuang sampah sembarangan perlu ditingkatkan.

Sejumlah lokasi tempat pembuangan sampah liar menurut Aming tidak hanya ganggu masyarakat sekitar. Sebab saat musim penghujan sampah ikut terbawa pada aliran selokan menuju ke sungai. Perubahan lingkungan berpotensi terjadi akibat sampah dengan terjadinya sedimentasi permanen pada areal bendungan. Pendangkalan terus menerus akibatkan daya tampung bendungan berkurang.

“Bendungan irigasi bertujuan untuk mengatur distribusi air sungai sekaligus pasokan air kala kemarau,tapi saat sampah menumpuk dampak lingkungan cukup terasa,” cetus Aming.

Dampak munculnya tempat pembuangan sampah liar juga dialami Suminah. Petani yang tinggal di tepi Sungai Way Asahan menyebut jenis sampah yang dibuang semakin kompleks. Sebelumnya sampah pada sungai berupa limbah pertanian, namun kini popok bayi, kasur hingga pakaian dibuang ke sungai. Masuk ke areal pertanian semua jenis sampah tersebut ganggu keseimbangan lingkungan.

Bagi warga yang kerap memakai air sungai untuk mandi, Suminah menyebut kebersihan air berkurang. Meski spanduk larangan membuang sampah telah dipasang pada beberapa titik, sebagian tidak diindahkan. Sanksi bagi pelanggar yang membuang sampah sembarangan juga hanya untuk menakut nakuti. Sebab aktivitas membuang sampah sebagian terbuang ke areal pertanian masih terjadi.

Lihat juga...