Satpol PP Semarang Masih Dapati Pedagang dan Pembeli Tak Bermasker

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Sejumlah pedagang dan pembeli di pasar tradisional Kota Semarang, masih ada yang tidak memakai masker. Hal tersebut dijumpai saat digelar razia yustisi penerapan protokol kesehatan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang.

Salah satunya, Mat Sokib, yang terjaring razia saat beraktivitas di pasar Wonodri Semarang. Pedagang tersebut, kedapatan tidak memakai masker dengan benar, karena hanya dikalungkan di leher. Konsekuensinya, selain di data oleh petugas, pria paruh baya tersebut pun dikenai sanksi.

“Tadi saya disuruh memilih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, melafalkan Pancasila atau dihukum push up. Saya memilih push up saja,” paparnya.

Dirinya mengaku kaget karena terjaring razia, sehingga sampai lupa dengan lirik lagu ataupun bunyi Pancasila. “Sakplengan (tiba-tiba-red) sampai saya lupa, karena kaget,” terangnya.

Sokib mengaku dirinya melepas masker, karena sedang diajak bicara oleh pedagang lainnya, namun dirinya tidak menyangka akan kena teguran dari Satpol PP. “Biasanya juga saya pakai, ini pas dilepas kok ya pas ada razia,” terangnya.

Hal serupa juga terjadi pada Rohmat, pedagang kelapa parut di pasar Wonodri tersebut, juga kedapatan tidak memakai masker saat melayani pembeli. Dirinya pun langsung di data oleh petugas.

“Saya bawa masker, namun masih di tas. Tadi buru-buru, karena istri yang biasanya jaga sedang pergi, jadi kelupaan,” akunya.

Sementara, Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwanto memaparkan, pihaknya menggelar razia di empat titik pasar tradisional yakni di Karangayu, Wonodri, Peterongan dan pasar Bulu.

“Dari hasil razia ini, kita masih menemukan pedagang maupun pembeli yang tidak memakai masker. Mereka langsung kita data, khusus untuk pedagang, sudah kita peringatkan, jika mereka kembali tidak memakai masker, lapak mereka bisa kami tutup sementara karena melanggar prokes,” terangnya.

Pihaknya berharap penerapan prokes tersebut bisa dipatuhi oleh seluruh pedagang dan pembeli. “Kita tidak ingin kembali muncul klaster covid-19 dari pasar tradisional, seperti beberapa waktu lalu. Sebab jika sampai muncul, pasar akan ditutup sementara. Jika hal tersebut terjadi, yang rugi kita semua. Pedagang, pembeli, pemerintah juga dirugikan,” pungkasnya.

Lihat juga...