Sekolah Didorong Tingkatkan Kualitas USBN Sebagai Pengganti UN

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Banyumas terus didorong untuk meningkatkan kualitas pembejalaran serta meningkatkan mutu Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) yang dihilangkan.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas, Irawati di kantornya, Kamis (10/12/2020). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas, Irawati mengatakan, pihaknya bahkan sudah membuat website khusus sebagai tempat untuk belajar para guru dan pengawas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banyumas.

“Kita sudah mempunyai rumah belajar sendiri, para guru hingga pengawas sekolah bisa membuka website www.banyumascalakan.co.id. Website tersebut merupakan wadah pelatihan dan pengembangan para guru berbasis data,” katanya, Kamis (10/12/2020).

Menurut Irawati, banyumascalakan juga sebagai persiapan untuk mewujudkan program merdeka belajar yang dicanangkan Kementrian Pendidikan. Dimana assesment untuk jenjang pendidikan SMP akan dilakukan saat siswa duduk di kelas 8 dan untuk jenjang SD, pada saat siswa duduk di kelas 5.

“Assesment ini untuk mengukur apakah pola pembelajaran yang diterapkan selama ini sudah tepat atau belum, sehingga dilakukan sebelum jenjang pendidikan akhir, supaya jika kurang tepat, masih ada waktu untuk melakukan perbaikan selama 1 tahun ke depan,” jelasnya.

Harapannya, pada tingkat akhir yaitu kelas 6 SD dan kelas 9 SMP, ada perbaikan kualitas dan mutu pembelajaran. Bagi siswa yang pada awal pembelajaran kurang bisa mengikuti, masih mempunyai kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Lebih lanjut diterangkannya, dengan dterapkannya USBN, para guru mempunyai keleluasaan untuk melakukan penilaian terhadap peserta didik. USBN diselenggarakan sekolah untuk menilai kompetensi siswa, dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis ataupun penilaian lainnya seperti tugas-tugas sekolah.

Jika sebelum program merdeka belajar didengungkan, saat pelaksanaan USBN, guru hanya menerima soal-soal tes yang dikembangkan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Namun, dengan diterapkannya merdeka belajar, kewenangan membuat soal dikembalikan kepada guru. Sehingga guru didorong untuk terus meningkatkan kapasitas profesionalitasnya terkait assesment untuk membuat soal-soal yang bermutu.

“Dalam merdeka belajar ini, peran Dinas Pendidikan lebih kepada pengembangan kapasitas dan kompetensi guru, untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah,” terangnya.

Sementara itu, salah satu guru SD Negeri Karangdadap, Banyumas, Dewi Ratnawati menyampaikan, ia secara rutin membuka website banyumascalakan, terutama saat mengikuti diklat office 365, yaitu belajar bagaimana menggunakan aplikasi teams.

“Kita para guru rutin memantau website tersebut, terutama untuk yang mengikuti diklat, karena semuanya ada di website tersebut,” pungkasnya.

Lihat juga...