Selama Pandemi Madu Asli Sikka Banyak Dicari

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Merebaknya pandemi Corona membuat banyak masyarakat mulai mengkonsumsi madu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, agar terhindar dari penularan virus Covid-19 yang mengancam di berbagai wilayah.

Madu Wane Ai, merupakan salah satu madu asli yang berasal dari lebah hutan yang banyak terdapat di beberapa wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang biasanya berada di hutan dan di atas pohon yang tinggi.

“Sejak merebaknya pendemi Corona, banyak yang mencari madu asli, terutama madu dari lebah hutan untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap Sonya da Gama, pemilik produk madu Wane Ai saat ditemui Cendana News di tempat usahanya di Kota Maumere, Selasa (8/12/2020).

Pemilik produk madu asli Wane Ai asal Kabupaten Sikka, NTT, Sonya da Gama, saat ditemui di tokonya di Kelurahan Kota Baru, Maumere, Selasa (8/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Sonya menyebutkan, madu Wane Ai dikemas dalam ukuran 250 gram dan dijual dengan harga Rp50 ribu. Di bagian tutupnya dilubangi menggunakan jarum, agar uapnya bisa keluar.

Dirinya menjamin, madu yang dijualnya merupakan madu asli dan dibeli dari warga kabupaten yang mengantar ke tempat usaha setelah panen, lengkap dengan sarangnya.

“Semua madu yang kami jual merupakan madu dari lebah hutan asli, sehingga harga jualnya memang relatif lebih mahal. Saya membelinya dari petani dari beberapa wilayah di Kabupaten Sikka dengan harga Rp75 ribu per liternya,” ungkapnya.

Sonya mengaku, penjualan madu meningkat drastis sehingga stoknya pun habis. Namun setelah ada panen sejak Agustus lalu, stok madu mulai tersedia sehingga penjualan pun mulai stabil.

Menurutnya, pembeli madu asli kebanyakan dari kalangan manengah ke atas, serta kantor-kantor pemerintah dan swasta untuk diberikan kepada tamu yang datang dari luar Kabupaten Sikka.

“Banyak kantor yang membelinya untuk diberikan kepada para tamunya yang datang dari luar Kabupaten Sikka dan NTT. Biasanya dijadikan oleh-oleh dan sering tamu pun memesan kembali saat stok yang dimiliki telah habis,” ucapnya.

Pemanjat madu hutan, Martinus Meda, warga Desa Wolonwalu, Kecamatan Bola, mengatakan, biasanya madu hutan banyak ada di pohon Manggeris, bahasa lokal dinamakan Ojang.

Martinus mengatakan, dalam satu pohon bisa terdapat 50 sampai 60 sarang lebah madu hutan yang biasa dipanen pada bulan September dan Oktober, saat bulan gelap dan ada juga yang ada di pohon Kemiri.

“Tahun ini karena kemarau panjang sehingga hasil panen pun berkurang, hingga hampir setengahnya. Panen madu pun terlambat hingga Oktober, bahkan November, karena hasil madunya belum banyak,” ungkapnya.

Lihat juga...