Lebaran CDN

Setiap Tahun 13,7 Juta Orang Indonesia Terserang Stroke

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Stroke atau penyakit yang diakibatkan oleh sumbatan pada pembuluh darah otak merupakan salah satu penyakit mematikan yang masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia.

dr. Ismi Hamdani. SpS, SMF Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi, Jawa Barat mengatakan, setiap tahunnya ada 13,7 juta kasus stroke baru, dan sebanyak 5,5 juta kematian diakibatkan oleh penyakit tersebut.

“Stroke ini adalah masalah kesehatan nasional. Masalah ini sering kita hadapi, bahkan setiap hari pasti ada kasus stroke yang saya tangani. Sekali lagi penyakit ini adalah salah satu kelumpuhan dan kematian yang utama,” terang dr. Ismi dalam webinar bertajuk Ayo Gerak Cegah Stroke, pada Jumat (25/12/2020).

Menurut dr. Ismi, stroke tidak hanya menyerang lansia, namun sekitar 8-10 persen penderita stroke adalah masyarakat usia di bawah 44 tahun.

“Ada juga yang di usia 35 tahun, 40 tahun. Memang stroke itu datang melalui sejumlah faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas. Jadi sayang sekali kalau pada masa yang seharusnya produktif menjadi tidak produktif akibat stroke,” tandasnya.

Lebih lanjut, dr. Ismi menyebutkan, bahwa stroke memiliki sejumlah gejala yang mudah untuk dikenali, pertama yakni dari senyum. Apabila senyum seseorang tampak tidak simetris dan secara mendadak mengalami kesulitan menelan, maka itu termasuk gejalanya.

“Kemudian gejala kedua dari gerak. Seseorang akan diminta untuk mengangkat kedua tangannya setinggi dada sekitar 10 detik. Kalau salah satunya jatuh, itu juga kita sebut gejala stroke,” ungkapnya.

Adapun gejala ketiga adalah mengalami gangguan bicara. Gejala keempat kebas atau bisu. Lalu kelima rabun. Dan keenam sakit kepala yang dirasakan sangat mendadak, yang membuat terjadinya penurunan kesadaran.

“Kita menyingkat gejala ini dengan slogan SEGERA KE RS. Perlu ditekankan, bahwa semua gejala itu datangnya secara mendadak,” papar dr. Ismi.

Masyarakat dapat mencegah serangan stroke dengan mengontrol sejumlah faktor risiko yang membawa penyakit tersebut, di antaranya hipertensi, diabetes, penyakit jantung, merokok dan mengonsumsi alkohol, dislipidemi dan obesitas.

“Hal lain yang dapat kita lakukan untuk mencegah stroke adalah CERDIK, yaitu Cek Kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres,” ungkap dr. Ismi.

Pada forum yang sama, dr. Lydia Agustina, SpS, Msi.Med menambahkan, bagi penderita stroke yang tengah menjalani proses pemulihan, diwajibkan untuk tidak berhenti mengonsumsi obat yang sudah diberikan oleh dokter yang menanganinya.

“Biasanya ada pasien yang merasa agak membaik, dan memutuskan untuk tidak lagi mengonsumsi obat, ini kami anggap keliru. Karena dia pasti akan kembali bereaksi dan bahkan akan jauh lebih ganas seiring dengan meningkatnya usia pasien,” kata dr. Lydia.

Meski demikian, penderita stroke bisa menghentikan konsumsi obat, namun sifatnya sementara, apabila ia merasakan efek samping dari obat tersebut.

“Kalau hal itu terjadi, segera dikonsultasikan kepada dokter saraf. Karena akan disediakan obat pengganti. Karena perlu diketahui, penyakit ini hampir tidak bisa disembuhkan, tapi masih bisa dikendalikan,” pungkas dr. Lydia.

Lihat juga...