Sistem Pendidikan Indonesia Belum Siap Terapkan IoT

Editor: Koko Triarko

Head of APAC - Micro:bit Educational BBC Waris Chandra dalam talkshow online tentang IoT, Kamis (17/12/2020). –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Internet of Things (IoT) merupakan suatu hal yang umum sebagai pendamping pembelajaran di masa sekarang di semua penjuru dunia. Tapi, sayangnya di Indonesia sistem pembelajaran yang ada belum memadai untuk mempergunakan IoT ini dalam menghasilkan generasi muda yang mampu untuk mengevaluasi dan berinovasi.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo, menyatakan Indonesia saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan negara lainnya jika dikaitkan dengan pemanfaatan IoT. Karena human capital pendidikan di Indonesia belum terlatih untuk berinovasi dalam meningkatkan kesejahteraan.

“Dalam penerapan IoT ini, harus dilihat semua aspek secara keseluruhan. Baik pendidik, lembaga pendidikan, peserta didik dan orang tua. Karena IoT ini adalah bagian dari pembelajaran tingkat tinggi. Dan, di Indonesia masih butuh waktu panjang untuk mempersiapkannya,” kata Heru, saat dihubungi, Kamis (17/12/2020).

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo – Dok: CDN

Ia menyebutkan, pembelajaran yang mampu mengembangkan hard skill dan soft skill harus lah menggunakan sistem pembelajaran yang mampu meng-cover pengembangan Kognitif 1 hingga Kognitif 6 dengan baik.

“Di Indonesia hal ini belum banyak yang bisa. Berdasarkan data yang disampaikan salah satu peneliti, hanya sekitar 25-28 persen dari seluruh instansi pendidikan di Indonesia yang masuk dalam kualitas standar dan di atasnya,” ucapnya.

Dan, mempersiapkan lajur untuk memasuki era pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan saat ini, tidak hanya tanggung jawab stakeholders pendidikan saja. Tapi, juga seluruh aspek dalam satu sistem pemerintah.

“Peserta didik yang memasuki tahap pembelajaran tingkat tinggi harusnya di-support dengan asupan yang mampu membuat mereka belajar. Artinya, di sini ada aspek orang tua yang mampu untuk memberikan makanan sehat dan aspek pemerintah yang bertanggung jawab atas kesehatan dan daya beli masyarakat dalam membeli makanan sehat,” paparnya.

Lalu, lanjutnya, aspek infrastruktur dan distribusi pendidik yang berkualitas dan mampu membimbing peserta didik dalam pembelajaran tingkat tinggi juga harus tersedia.

“Di sini memang butuh keseriusan pemerintah untuk memutuskan kapan harus dimulai dalam mempersiapkan semua aspek yang terkait pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan di era saat ini. Baik dari sisi anggaran, pendidik maupun sarana pendidikannya. Dan ini harus dimulai, siap atau tidak siap. Pemerintah harus siap untuk memulai membangun peta jalan pendidikan nasional yang berbasis high soft skill dan berbasis inovasi,” tandasnya.

Head of APAC – Micro:bit Educational BBC, Waris Chandra, memaparkan, bahwa Internet of Things merujuk kepada semua benda yang terhubung dengan internet.

“Dengan adanya keterhubungan ini, teknologi akan mampu mentransfer data tanpa membutuhkan interaksi dari manusia ke perangkat komputer,” kata Waris, dalam salah satu talkshow online.

Tapi, lanjutnya, yang paling penting dari pengembangan IoT ini adalah human capital yang mempergunakannya dibandingkan dengan teknologinya itu sendiri.

“Sehingga bagaimana human capital itu menjadi penguasa dari teknologinya, di mana human capital itu mengetahui manfaat ia menggunakan teknologi tersebut, dan bagaimana nilai etiknya saat terkoneksi,” ucapnya.

Untuk memastikan human capital ini mampu, sambungnya, diperlukan suatu edukasi dari sejak usia dini. “Di mana anak sejak kecil mengerti cara melakukannya dan manfaatnya bagi mereka. Memahami, bahwa teknologi merupakan bagian dari cara kita menyelesaikan masalah yang muncul di sekitar kita,” ucapnya.

Di Amerika, menurut Waris, sudah mulai memperkenalkan Computing Science sejak tingkat TK. “Karena Computational Thinking harus diperkenalkan sejak dini untuk mempersiapkan human capital sejak awal, agar bisa berkompetisi di skala industri global. Contohnya, Malaysia sudah mulai mengajarkan RBT (Reka Bentuk Teknologi, red : pelajaran merakit benda yang berkaitan dengan penggunaan internet) di grade 5,” ujarnya.

Dan, proses pembelajaran ini bisa dilakukan dengan membangun komunitas belajar, yang pada ujungnya diharapkan dapat menjadi penyambung ilmu pada area yang lebih luas.

“Seperti di Micro:bit, kami melakukan edukasi pada beberapa komunitas, dan nantinya akan mendorong mereka untuk mengedukasi lingkungan mereka. Jadi berkelanjutan, sehingga pada titik akhir, teknologi ini bisa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...