Siswa tak Mampu di Tanjungpinang Bisa Ikuti Pembelajaran di Sekolah

TANJUNGPINANG  – Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menyatakan pelajar dari keluarga kurang mampu yang tidak memiliki ponsel cerdas, tetap dapat mengikuti pendidikan di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Tanjungpinang, Atmadinata, di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan, jumlah pelajar SD dan SMP yang tidak memiliki ponsel pintar untuk mengikuti pendidikan secara daring relatif sedikit.

Meski demikian, hak para pelajar untuk memperoleh pengetahuan dari guru-gurunya harus dipenuhi. Karena itu, guru-guru tetap mengajari para pelajar tersebut di sekolah.

“Salah satu kasus yang ditemukan, dalam satu keluarga memiliki dua anak duduk di bangku SD, dan satu orang lagi duduk di bangku SMP, namun ponsel pintar milik orang tuanya hanya satu. Anak-anak ini tetap harus mendapatkan pendidikan di sekolah karena tidak memungkinkan mereka belajar daring dalam waktu yang sama setiap hari,” ujarnya.

Atmadinata mengatakan Pemkot Tanjungpinang memiliki keinginan untuk mengadakan ponsel pintar untuk pelajar dari keluarga kurang mampu. Namun kondisi anggaran daerah tidak memungkinan untuk mengadakan ponsel pintar tersebut.

“Anggaran Tanjungpinang tidak memungkinkan untuk pengadaan ponsel pintar untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu,” katanya.

Ia menjelaskan tidak ingin gegabah dalam melaksanakan program pendidikan tatap muka pada Januari 2021 berdasarkan keputusan bersama empat menteri. Sistem belajar tata muka dapat dilaksanakan jika kondisi COVID-19 memungkinkan.

Namun untuk saat ini, kata dia Dinas Pendidikan Tanjungpinang belum dapat memutuskan apakah Januari 2021 dapat melaksanakan kebijakan pemerintah pusat tersebut atau tidak.

Keputusan Dinas Pendidikan Tanjungpinang terkait rencana itu bersandar pada kesehatan dan keselamatan warga sekolah. Kesehatan dan keselamatan warga sekolah (SD dan SMP) yang melebihi 40 ribu orang itu merupakan hukum tertinggi berdasarkan pernyataan Presiden Joko Widodo.

“Masih satu bulan lagi, segala kemungkinan dapat terjadi. Ya, kami mengharapkan Tanjungpinang benar-benar bersih dari COVID-19,” ucapnya.

Atmadinata juga mempertimbangkan masa libur sekolah mulai 23 Desember 2020-3 Januari 2021. Masa liburan memiliki korelasi dengan penambahan jumlah COVID-19.

Setelah liburan ke luar kota, sebaiknya anak-anak melakukan karantina mandiri.

“Kita ‘kan tidak tahu mereka liburan ke mana? Kita hanya berharap agar anak-anak liburan di rumah untuk mencegah penularan COVID-19,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...