SMK PGRI 3 Malang Siapkan Dua Opsi Pembelajaran

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MALANG — Menyikapi pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang akan berlangsung tahun depan, SMK PGRI 3 Malang telah menyiapkan dua opsi metode pembelajaran.

Waka Kesiswaan SMK PGRI 3 Malang, Adhy Ariyanto ST MT, menjelaskan terkait metode pembelajaran SMK PGRI 3 Malang, Rabu (23/12/2020). Foto: Agus Nurchaliq

Waka Kesiswaan, Adhy Ariyanto ST MT mengatakan, sambil menunggu kebijakan dari pemerintah daerah dan Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan, pihaknya telah menyiapkan dua opsi metode pembelajaran baik secara full daring maupun semi luring karena ada yang sebagian daring dan ada yang sebagian luring. Menurutnya opsi semi luring ini nantinya akan dibagi menjadi dua sesi yakni sesi pagi mulai pukul 08.00-11.00 dan sesi siang mulai pukul 13.00-16.00 WIB. Siswa yang masuk juga akan dibatasi hanya sekitar 15 siswa setiap kelas pada setiap sesinya.

“Jadi tidak ada jam istirahat bagi siswa, karena kita juga khawatir yang namanya anak-anak kesulitan untuk menerapkan protokol kesehatan. Biasanya kalau sudah bertemu dengan teman-temannya, mereka lupa dengan prokes. itu yang kita antisipasi,” ujarnya saat ditemui di SMK PGRI 3.

Namun demikian dikatakan Adhy, apapun opsi metode pembelajaran yang nantinya akan dilaksanakan, semua tetap tergantung ijin dari orang tua. Sehingga walalupun pemerintah daerah dan Kacabdin mengijinkan untuk pembelajaran secara tatap muka, tapi kalau beberapa orang tua menolak untuk tatap muka, maka yang tatap muka adalah yang orang tuanya mengijinkan saja.

“Kami tidak berani memaksakan, kalau kami memaksakan nanti ujung-ujungnya kalau ada apa-apa kita yang disalahkan dan harus bertanggung jawab,” sebutnya.

Ditambahkan, kalau orang tuanya sudah mengijinkan, sekolah tetap bertanggung jawab dan orang tua juga ikut bertanggung jawab karena sama-sama ada tanggung jawab. Kalau orang tua mengijinkan dan sekolah sudah siap, nanti kalau ada masalah bisa mencari solusinya bersama-sama.

“Kami juga sangat menghargai keputusan dari orang tua karena kadang mereka punya banyak pertimbangan,” ucapnya.

Menurutnya, jika nantinya sudah diijinkan melakukan pembelajaran tatap muka, selain harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat, pihaknya juga telah memiliki dokter sekolah sehingga bisa melakukan rapid sendiri. Alatnya sudah ada, Sumber Daya Manusiannya (SDM) juga ada, sehingga nanti jika ada anak yang terindikasi, untuk mengantisipasi sudah disiapkan ruang isolasi.

“Jadi siswa tersebut kita isolasi, kita rapid dulu. Kalau hasilnya reaktif akan langsung kita rujuk ke rumah sakit,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan Adhy, sebenarnya sudah dua bulan ini SMK PGRI 3 melakukan opsi semi luring, tapi khusus untuk praktek-praktek yang benar-benar tidak bisa dilakukan secara online.

“Kita datangkan mereka tapi dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat disiplin dan jumlah siswa juga dibatasi. Alhamdulillah selama dua bulan ini tidak ada masalah,” tuturnya.

Sementara itu, ditemui terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Malang dan Kota Batu, Ema Sumiarti, senada mengatakan bahwa semua SMA dan SMK di kota Maalang dan Batu sudah siap melaksanakan pembelajaran luring atau tatap muka. Hanya saja tetap harus seijin orang tua siswa.

“Insyaallah kalau mau tatap muka, sudah siap semua tapi tetap harus ada ijin dari orang tua. Kemarin sempat kita lakukan tatap muka tapi ketika kondisi kasus Covid-19 di kota Malang meningkat, akhirnya kita daring lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...