Sosok Sri Moempoeni, Ajudan Ibu Tien Soeharto di Mata Bambang Parikesit

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Mantan Direktur Umum Taman Mini Indonesia (TMII), Bambang Parikesit mengaku sangat kehilangan seorang kakak dan sahabat yang senantiasa menjadi teladannya. Yakni, Ibu Sri Moempoeni, mantan ajudan Ibu Tien Soeharto.

Innalillahi wainnailaihi rojiun, saya sangat kehilangan Ibu Sri Moempoeni. Beliau itu seorang kakak, sahabat dan rekan kerja yang hidupnya sangat sederhana, dedikasinya tinggi dalam mengabdi selama jadi ajudan Ibu Tien Soeharto,” ujar Bambang kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (7/11/2020) sore.

Dewan Komisaris TMII, Bambang Parikesit, ditemui pada acara di TMII, Jakarta. -Foto: Dok. CDN

Di mata Bambang, sosok almarhumah adalah perempuan yang sangat keibuan, ramah dan mau berteman dengan siapa pun tanpa pandang bulu. Dalam tugas kerjanya, juga sangat teliti dan disiplin serta memegang teguh komitmen.

Bambang pun berkisah di tahun 1975, Ibu Sri Moempoeni sebagai ajudan Ibu Negara, mendampingi Ibu Tien Soeharto meninjau penggosokan batu perhiasan di daerah Cibulan, Puncak, Jawa Barat.

Ketika itu, Bambang pun hadir di acara tersebut. Dirinya melihat Ibu Sri Moempoeni yang duduk di tempat strategis dengan tatapan mata  memantau situasi di area tersebut. Senyuman ramah pun tetap ditebar kepada semua orang yang hadir.

“Saat  mengawal Ibu Tien kunjungan ke Cibulan, itu Ibu Sri sangat waspada sekali, semua terpantau oleh tatapan matanya. Bisa membaca gelagat orang  di sekitarnya.Tapi beliau tidak over acting. Ini saya melihat langsung,” ungkap Bambang mengenang.

Menurutnya, masih banyak kisah perjalanan Ibu Sri Moempoeni selama menjadi ajudan Ibu Tien Soeharto, yang diceritakan kepada dirinya.

Ibu Sri Moempoeni (tengah) bersama staf TAIP. -Foto: CDN/Istimewa

Kisah-kisah itu diungkapkan Sri, saat almarhumah ditugaskan oleh Pak Harto untuk mengelola Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP), tepatnya di tahun 2005.

Sri juga menjabat sebagai bendahara Yayasan Harapan Kita (YHK) hingga hembusan napasnya terakhir pada Senin, 7 Desember 2020 di RS Polri Kramatjati, pukul 14.05 WIB.

“Saya dan almarhumah itu masih famili, kita satu kampung di Kediri. Ibu Sri itu, dulunya sering main ke rumah kakak saya. Kita ketemu lagi saat sama-sama bertugas di TMII. Nostalgia kembali terukir, dan kini saya sangat kehilangan beliau,” ujar Bambang terdengar suaranya lirih.

Kembali dikatakan Bambang, bahwa Ibu Sri selalu bercerita pengalaman berkesan selama mendampingi Ibu Tien Soeharto. Bahkan kesederhanaan Sri dalam kehidupan keseharian, tidak lepas dari mempelajari selama mendampingi Ibu Tien Soeharto.

“Karakter Ibu Tien Soeharto itu sangat ramah, perhatian pada anak buah, jarang marah dan hidupnya sangat sederhana. Saya belajar semua hal itu dari Ibu Tien Soeharto,” ujar Bambang menirukan ucapan almarhumah Sri yang disampaikannya saat bertemu di TMII, beberapa tahun lalu.

Bahkan, kata Bambang, Ibu Sri Moempoeni juga pernah cerita kalau godaan kerap datang saat dirinya menjadi ajudan itu. Namun dirinya, tetap berpegang teguh pada komitmen kejujuran.

“De, rejeki itu ada yang ngatur gusti Allah, makanya aku ora mau manfaatin kepercayaan Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto, selama aku jadi ajudan,” ucap Bambang lagi menirukan perkataan almarhum Ibu Sri Moempoeni.

Ibu Sri Moempoeni (kiri) bersama jajaran pengurus Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP). -Foto: CDN/Istimewa

Menurut Bambang, almarhumah juga bercerita kekaguman terhadap Pak Harto. Apalagi saat Trikora, dirinya berlatih terjun payung bersama Pak Harto di Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

“Itu Ibu Sri bilang begini ke saya. De, kamu tahu nggak aku ini pernah latihan terjun payung sama Pak Harto. Aku senang banget, bisa ketemu Pak Harto, latihan bareng pula,” ujar Bambang lagi menirukan ucapan Sri.

Menurutnya, saat Sri Moempoeni berpangkal kapten ditunjuk oleh Pak Harto menjadi ajudan Ibu Tien Soeharto. Ini karena melihat dedikasi Sri yang sangat tinggi dalam mengabdi pada negara.

“Pak Harto milih Ibu Sri jadi ajudan Ibu Tien Soeharto itu nggak salah, tepat banget,” tukas Bambang Parikesit yang menjabat sebagai Dewan Komisaris TMII.

Dalam tugas mengelola TAIP, sebut Bambang, dedikasi Ibu Sri Moemoeni juga tidak diragukan. Dengan segala fasilitasnya, TAIP memberikan manfaat bagi para petani anggrek dari seluruh Indonesia dan juga masyarakat luas.

“Taman anggrek lebih asri, lestari semua jenis anggreknya. Masyarakat sambil wisata bisa beli anggrek, dan belajar tentang tanaman khas Indonesia ini,” ujarnya.

Bahkan sikap disiplin almarhumah, sangat tercermin dan menjadi teladan karyawan TMII. “Itu kalau ada rapat pukul 10.00 WIB, beliau datangnya selalu lebih awal tidak pernah telat sangat menghargai waktu,” ujarnya.

Kepada Bambang, Ibu Sri Moempoeni juga selalu mengingatkan agar menjaga hidup sehat. “Saya ingat pesan beliau itu gini, ‘De, pastikan hidup selalu sehat ya dan bermanfaat bagi orang lain’,” ujarnya mengingat.

Di usianya ke 82 tahun, perempuan kelahiran Kediri, Jawa Timur itu wafat. Dalam lantunan doanya, Bambang memohon kepada Allah SWT agar mengampuni segala kesalahan almarhumah Sri Moempoeni.

“Semoga Allah SWT, mengampuni dosa-dosa almarhumah, melapangkan kuburnya dan menempatkan di surga,” pungkasnya.

Lihat juga...