Tahun 2020 Dimungkin Menjadi Tahun Terpanas Kedua Dalam Catatan Sejarah

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada malam pertemuan puncak iklim global – foto Ant

JENEWA – Tahun 2020, dinilai akan menjadi tahun terpanas kedua dalam catatan sejarah setelah 2016. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (2/12/2020).

Lima kumpulan data, saat ini menempatkan 2020 sebagai tahun panas. Tahun yang ditandai dengan adanya gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, dan amukan badai, sebagai yang terpanas kedua, sejak pencatatan dimulai pada 1850. “2020 sangat mungkin menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang tercatat secara global,” kata badan PBB yang berbasis di Jenewa itu dalam laporan Situasi Iklim Global 2020.

Kemungkinan itu dipicu oleh panas yang ekstrim, kebakaran hutan yang berkobar di seluruh Australia, Siberia, dan Amerika Serikat di tahun ini. Kebakaran yang disebut mengirimkan asap ke seluruh dunia. Adapun yang kurang terlihat adalah, lonjakan panas laut ke level yang menjadi catatan rekor, dengan lebih dari 80 persen lautan global mengalami gelombang panas laut. “Sayangnya, 2020 merupakan tahun yang luar biasa bagi iklim kita,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas, yang mendesak adanya lebih banyak upaya untuk mengekang emisi yang memicu perubahan iklim.

Konsentrasi gas rumah kaca naik ke rekor baru pada 2019, dan telah meningkat sepanjang tahun ini. Meski sebelumnya tingkat emisi diperkirakan akan turun, karena kebijakan lockdown terkait COVID-19. Laporan WMO terbaru mengatakan, suhu rata-rata global sekitar 1,2 derajat di atas garis dasar 1850-1900, yang terjadi di antara Januari dan Oktober tahun ini. Posisinya , menempatkan suhu tahun ini di urutan kedua di belakang 2016, dan sedikit di atas 2019.

Tahun-tahun panas biasanya dikaitkan dengan El Nino, peristiwa alam yang melepaskan panas dari Samudra Pasifik. Namun, tahun ini bertepatan dengan La Nia, yang memiliki efek sebaliknya dan mendinginkan suhu. WMO akan mengkonfirmasi data tersebut di Maret 2021. Sebuah pakta iklim, yang disepakati di Paris lima tahun lalu mendesak negara-negara melakukan upaya untuk membatasi peningkatan suhu hingga 1,5 derajat Celcius. Para ilmuwan memperingatkan, risiko bencana perubahan iklim, jika hal tersebut tidak dilakukan.

Meski tidak sama dengan melewati ambang batas pemanasan jangka panjang, WMO mengatakan, terdapat kemungkinan sebesar satu banding lima untuk angka temperatur melebihi level tersebut secara sementara hingga 2024, dengan basis per tahun. (Ant)

Lihat juga...