Tak Berizin, 18 Bangunan Karaoke di Semarang Rata Tanah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Sumiyati hanya bisa pasrah, saat dua alat berat menghancurkan bangunan tempat usaha karaoke miliknya, di Jalan Pelabuhan Ratu, Kelurahan Sambirejo, Gayamsari, Semarang, Rabu (16/12/2020).

Nasib serupa juga terjadi pada 17 bangunan lain di wilayah tersebut, yang berdiri tepat di belakang Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, karena dinilai telah menyalahi aturan. Semuanya dihancurkan hingga rata tanah, tanpa terkecuali.

“Sudah ada pemberitahuan kalau akan dibongkar, barang-barang yang ada di dalam bangunan juga sudah dikeluarkan. Bahan-bahan yang bisa dipakai, juga sudah saya bongkar sendiri, namun saya dan teman-teman yang lain minta, pembongkaran ini jangan pilih kasih,” paparnya, di sela pembongkaran bangunan.

Dirinya menuntut agar ada keadilan  dengan pembongkaran tempat karaoke liar serupa yang ada di sekitarnya.

“Memang bangunan ini berdiri di atas lahan yang tak semestinya. Tidak hanya kita, tempat lain juga sama. Jadi mereka juga harusnya dibongkar,” tambahnya.

Akibat pembongkaran tersebut, dirinya mengaku mengalami kerugian puluhan juta rupiah, akibat bangunan permanen yang didirikan kini hancur luluh.

“Tidak ada ganti rugi dari Pemkot Semarang,” jelasnya lagi.

Sementara, proses pembongkaran bangunan liar yang digunakan sebagai usaha karaoke tersebut, berlangsung lancar. Tidak ada penolakan dari para pemilik bangunan, hanya masih ada beberapa pekerja yang masih mengangkut barang-barang dari dalam bangunan.

Namun kegiatan mereka segera terhenti, saat pembongkaran sudah dimulai. Ratusan aparat gabungan dari Satpol PP Kota Semarang,TNI/Polri, serta dinas terkait, diterjunkan dalam aksi tersebut.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwanto menjelaskan, sebanyak 18 bangunan liar tersebut yang didirikan di samping Pasar Relokasi Johar kawasan MAJT Semarang, selama ini digunakan sebagai tempat karaoke.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwanto, saat memimpin operasi pembongkaran bangunan liar di kawasan Jalan Pelabuhan Ratu, Kelurahan Sambirejo, Gayamsari, Semarang, Rabu (16/12/2020). Foto: Arixc Ardana

“Pembongkaran dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari Dinas Penataan Ruang (Distaru) bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan liar. Mekanisme pembongkaran sudah sesuai prosedur. Distaru sudah melayangkan rekomendasi penyegelan dan pembongkaran, sedangkan Satpol PP bertugas melakukan penegakan perda,” paparnya.

Pihaknya juga sudah mengirimkan perintah bongkar kepada seluruh pemilik bangunan, untuk melakukan pembongkaran sendiri. Melalui surat bernomor 640/1267/2020 tertanggal 10 Desember 2020 disebutkan bahwa seluruh bangunan tersebut melanggar Perda Kota Semarang No 5/2009 tentang Bangunan Gedung.

“Kita beri waktu 5 x 24 jam untuk melaksanakan pembongkaran sendiri, sejak surat tersebut dikirimkan, sehingga batasnya hari ini (Rabu-red) sehingga kita lakukan pembongkaran,” tegas Fajar.

Pada 2019 lalu, Pemkot Semarang juga pernah melakukan pembongkaran bangunan karaoke liar di tempat tersebut. Namun saat itu, para pemilik bangunan meminta agar tidak dibongkar karena akan dialihfungsikan untuk kafe atau tempat kuliner.

“Akhirnya kita beri dispensasi saat itu, namun dengan perjanjian jika bangunan kembali digunakan untuk tempat karaoke maka siap untuk dibongkar. Ternyata kenyataannya kembali lagi digunakan sebagai tempat karaoke, maka hari ini langsung kami ratakan,” paparnya lebih lanjut.

Fajar juga memastikan akan melakukan tindakan serupa, terhadap pelanggaran yang terjadi di Kota Semarang. Pihaknya memastikan tidak akan tebang pilih, dalam menertibkan bangunan liar.

Sedangkan, Camat Gayamsari, Didik Dwi Hartono, yang ditemui di kesempatan yang sama, menjelaskan sebelum dibongkar paksa, pihak kecamatan sudah memperingatkan dengan mengirimkan teguran secara tertulis kepada pemilik bangunan.

Camat Gayamsari, Didik Dwi Hartono menerangkan sebelum dibongkar paksa, pemilik usaha sudah diberi surat peringatan sebanyak tiga kali, saat ditemui di kawasan Jalan Pelabuhan Ratu, Kelurahan Sambirejo, Gayamsari, Semarang, Rabu (16/12/2020). Foto: Arixc Ardana

“Intinya dijelaskan bahwa bangunan tersebut menyalahi aturan, namun ternyata mereka tidak mempedulikan dan tetap beroperasi. Keberadaan bangunan karaoke liar ini sudah lebih dari satu tahun,” tambahnya.

Selain itu, sebelumnya juga sudah muncul desakan dan kegelisahan dari masyarakat terkait keberadaan karaoke tersebut, yang lokasinya masih satu wilayah dengan MAJT Semarang.

“Kita harapkan setelah ini, jangan dibangun lagi untuk usaha karaoke. Silakan usaha yang lain, tentu saja dengan mengajukan izin terlebih dulu kepada pemerintah atau dinas terkait,” pungkasnya.

Lihat juga...