Tak Juga Melaut, Ekonomi Nelayan Tambaklorok Semarang Terancam

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Gelombang tinggi yang menerjang wilayah laut pesisir utara, membuat para nelayan tradisional tidak bisa melaut. Akibatnya, dari sisi ekonomi, mereka juga kehilangan pendapatan.

Suharto, saat ditemui di kampung nelayan Tambaklorok Kota Semarang, Selasa (15/12/2020). Foto Arixc Ardana

“Sampai hari ini (Selasa-red), belum melaut. Jadi sudah hampir dua minggu. Akibatnya, kita juga jadi kehilangan pendapatan,” papar seorang nelayan, Suharto, saat ditemui di kampung nelayan Tambaklorok Kota Semarang, Selasa (15/12/2020).

Dipaparkan, dalam sehari-hari saat masih melaut, dirinya mengaku mendapat penghasilan rata-rata Rp 150 ribu – Rp 250 ribu per hari. Namun akibat adanya cuaca buruk, yang menyebabkan gelombang tinggi, membuat mereka kehilangan penghasilan.

“Sekarang ini ya kita bergantung pada dapur umum, yang didirikan pemerintah. Setidaknya soal makan sehari – hari, kita tidak terlalu kesulitan,” terangnya.

Pihaknya pun berharap ada solusi, dalam mengatasi persoalan tersebut. “Kita ingin melaut, tapi kalau pakai perahu tradisional tidak berani. Takut terbalik perahunya. Selain itu, banyak perahu kita yang rusak terkena gelombang. Ini juga menjadi persoalan,” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan nelayan lainnya, Rahmat. Akibat tidak bisa melaut, perekonomiannya juga mulai terancam. Apalagi tabungannya semakin menipis.

“Musim cuaca buruk ini, sebenarnya merupakan siklus tahunan. Namun sampai sekarang belum ada solusi, untuk mengatasinya. Terutama terkait perekonomian nelayan yang terhenti, akibat tidak bisa melaut,” tambahnya.

Sedikit asa sempat dirasakannya, tak kala mendapat bantuan dari pemerintah, untuk perbaikan perahu dari Pemkot Semarang.

“Sudah di data, nelayan yang perahunya rusak atau tenggelam akibat terhantam gelombang, akan dibantu Pemkot Semarang. Mudah-mudahan bisa segera cair,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Nur Kholis mengatakan, pihaknya berusaha memfasilitasi warga agar perahu mereka yang rusak dan tenggelam,bisa mendapatkan bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jateng.

“Dari data kita, ada 19 perahu yang mengalami kerusakan dan empat tenggelam.Rata-rata perahu berukuran 5 Gross Tonnage (GT). Kami berusaha memfasilitasi bantuan dengan menyampaikannya kepada DKP Jateng, karena wewenang tersebut memang ada di provinsi,” paparnya.

Selain itu, anggaran yang dimiliki dinasnya pun terbatas akibat adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi covid-19.

“Untuk biaya perahu kayu dengan ukuran 5 GT, ditaksir mencapai harga sekitar Rp 30 juta. Itu belum termasuk dengan biaya mesin kapal,” tambahnya.

Di satu sisi, akibat cuaca buruk dan banyak nelayan yang tidak melaut, sedikit banyak juga berpengaruh pada permasalahan produksi dan distribusi ikan.

“Harapannya cuaca kembali normal, sehingga nelayan juga bisa melaut kembali, sehingga jalur produksi dan distribusi kembali lancar,” pungkasnya.

Lihat juga...