Tak Segera Diatasi, Longsor Ngasinan Semarang Semakin Meluas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Setiap hujan turun di kawasan RT 3 RW 10 Kampung Ngasinan, Kelurahan Srondol Kulon, Banyumanik Kota Semarang, para warga di lokasi tersebut tidak tenang. Mereka was-was, jika rumah mereka terkena tanah longsor. Bahkan sudah ada empat keluarga, yang terpaksa mengungsi ke tetangga atau sanak saudara, lantaran rumahnya hampir roboh.

Hal tersebut ditandaskan Sumairi, warga setempat, saat ditemui di rumah miliknya, yang hanya berjarak sekitar lima meter dari lokasi longsoran, Rabu (23/12/2020).

Sumairi, salah seorang pemilik rumah di lokasi tersebut, menunjukkan awal mula longsoran, saat ditemui di rumah miliknya, yang hanya berjarak sekitar lima meter dari lokasi, Rabu (23/12/2020). Foto: Arixc Ardana

“Setiap hujan turun, saya tidak bisa tenang. Apalagi kalau hujan turun dengan deras, longsoran semakin banyak, bahkan tanah di sekitarnya ambrol hingga satu meteran. Setiap malam juga berjaga-jaga,” paparnya.

Apa yang dirasakannya tersebut tidak berlebihan, apalagi rumah miliknya hanya berjarak beberapa meter dari ‘jurang’ akibat longsoran tanah di wilayah tersebut.

“Awalnya ini yang longsor hanya jalan, namun karena kondisi hujan terus menerus, longsoran semakin meluas, bahkan rumah Pak Uut Noviantoro (tetangga-red), jika tidak dibantu disangga dengan bambu dan kayu, terasnya sudah hampir ambrol,” terangnya sembari menunjuk rumah yang nyaris ambruk, akibat tanah di bawahnya longsor.

Dirinya juga menyayangkan, pada saat masih longsoran kecil, pihak atau dinas terkait tidak segera melakukan tindakan.

“Sudah dilaporkan, namun karena kondisi masih pandemi, jadi alokasi dana sudah dialihkan. Itu alasannya, namun ini kan kondisi darurat. Buktinya sekarang malah area longsoran semakin meluas, dana yang dibutuhkan untuk mengatasinya juga pasti lebih besar,” tegasnya.

Saat ini, Pemkot Semarang dari dinas terkait, berupaya memasang bronjong di dasar longsor sepanjang sekira 45 meter dengan tinggi 3 meter. Namun hal itu belum cukup, buktinya longsoran terus terjadi menggerus rumah warga. Terutama ketika hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.

“Kita inginnya, pemasangan bronjong ini tidak hanya di bawah, namun juga di sekitar rumah warga. Jadi harapannya, luasan longsoran tidak terus bertambah. Rumah warga juga bisa diselamatkan,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan Uut Novintoro, pemilik rumah di lokasi tersebut. Saat ini, halaman rumahnya sudah tergerus longsor. Kemudian dinding rumahnya telah retak, termasuk di bawah lantai bagian teras rumahnya juga sudah tergerus.

“Jadi sangat berbahaya, jika dihuni karena sewaktu-waktu bisa roboh,” katanya.

Saat ini seluruh keluarganya juga sudah mengungsi, meski sesekali dirinya tetap melihat kondisi rumahnya tersebut.

“Sekarang ini, kita hanya bisa berdoa dan berharap, agar hujan tidak turun terus. Apalagi lokasi ini berada di lereng, sehingga air hujan yang mengalir dari saluran air juga banyak. Ini menggerus tanah yang masih ada,” tambahnya.

Terpisah, Ketua RT 3 Maryono mengatakan, empat rumah sudah dikosongkan. Masing-masing rumah milik Uut Noviantoro, Hartono, Haryanto, dan Sumairi.

“Empat KK yang mengungsi dengan total 10 jiwa. Mereka ada yang mengungsi di rumah sanak saudara atau anak, ada juga yang mengungsi ke tetangga. Masih di lokasi yang sama, namun relatif lebih aman dibanding di rumah mereka,” terangnya.

Keputusan untuk mengungsi tersebut diambil, karena rumah mereka terancam roboh akibat gerusan tanah longsor yang terus merambat ke sekitaran rumah mereka.

“Bahkan rumah milik Uut Novintoro, halaman rumahnya sudah tergerus longsor. Selain itu juga ada tiga rumah lainnya juga terancam longsor. Kedalaman jurang akibat patahan longsoran, kini bahkan sampai puluhan meter. Tentu berbahaya. Sejumlah pejabat termasuk Walikota Semarang juga sudah melakukan peninjauan, kita harapannya bisa segera diatasi, apalagi ini sudah berlangsung cukup lama, sudah lebih dari lima bulan,” pungkasnya.

Lihat juga...