Tangan Dingin Suhadi Ubah Sungai Tepus jadi Kawasan Wisata

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sebelum ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun asing, lokasi wisata air Blue Lagoon, yang terletak di Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman mungkin dulu hanyalah sebuah sungai biasa di kawasan pedesaan.

Bahkan boleh dibilang tak ada seorang pun yang berani datang menginjakkan kaki ke kawasan ini, karena dipercaya sebagai daerah yang sangat angker.

Namun siapa sangka, berkat tangan dingin salah seorang warga bernama Suhadi, kini sungai dengan aliran sungai sangat jernih serta rindang pepohonan ini, mampu menjadi magnet ribuan wisatawan dari berbagai daerah.

Tak hanya membuat lingkungan sekitar kawasan sungai menjadi lebih tertata dan terjaga kelestariannya, keberadaan lokasi wisata Blue Lagoon ini juga mampu menggerakkan perekonomian warga di sekitarnya.

Tinggal tak jauh dari lokasi, Suhadi yang merupakan anggota TNI Koramil Ngemplak, berpangkat Serda ini mulai merintis wisata Blue Lagoon sejak tahun 2014 lalu. Sebagai warga asli dusun setempat, Suhadi mengerti betul potensi yang ada di desanya, baik dari sektor pariwisata, seni budaya, dan sebagainya.

Penggerak Desa Wisata Blue Lagoon yang juga anggota TNI Koramil Ngemplak, Sleman, Serda Suhadi, saat dijumpai Cendana News, Rabu (23/12/2020). Foto: Jatmika H Kusmargana

Dari situlah Suhadi kemudian merangkul dan mengajak warganya untuk bersama-sama merintis kampungnya sebagai desa wisata, desa religi sekaligus desa budaya. Yakni dengan menata dan menjaga kelestarian kawasan Sungai Tepus di kampungnya. Serta menghidupkan kembali kesenian lokal dan budaya adat tradisi setempat seperti upacara merti sumber dan sebagainya.

“Saat awal merintis tentu tantangannya sangat berat. Terutama dalam mengajak warga untuk ikut bersama-sama membangun tempat ini. Saya sendiri tidak punya background di bidang wisata. Begitu juga warga sekitar, hanya masyarakat desa biasa. Sehingga benar-benar buta sama sekali soal wisata,” katanya kepada Cendana News, Rabu (23/12/2020).

Selain harus menghadapi tantangan terkait SDM, Suhadi juga mengaku menerima banyak tantangan lain ketika awal merintis lokasi wisata Blue Lagoon di desanya. Mulai dari persoalan biaya atau modal, manajemen pengelolaan, persaingan antarlokasi wisata, tantangan alam bahkan hingga tantangan dari ‘makhluk lain’.

“Menurut saya kunci terpenting itu berserah diri pada Yang Maha Kuasa. Tidak bergantung pada siapa pun. Karena itu saya selalu memohon petunjuk setiap kali hendak melakukan apa pun saja. Saya yakin kalau memang tujuannya baik, pasti akan selalu diberikan petunjuk oleh Yang Maha Kuasa. Itu pasti,” ungkapnya.

Berkat  kesungguhannya, kini kampung “Blue Lagoon” tempat tinggal Suhadi semakin ramai dan dikenal secara luas. Kesenian tradisional yang ada di kampung menjadi hidup kembali, begitu juga upacara adat tradisi merti sumber rutin digelar setiap tahun.

Puluhan warga sekitar, bahkan kini menggantungkan hidupnya dengan ikut bekerja mengelola lokasi wisata Blue Lagoon. Baik itu dengan menjadi tukang parkir, penjaga tiket masuk, penyewaan pelampung atau pun berjualan makanan dan minuman ringan di sekitar lokasi.

“Sejak awal tujuan saya memang itu. Seperti mengubah budi pekerti perilaku masyarakat sekitar menjadi lebih religius, dekat dengan Yang Maha Kuasa. Memiliki kepedulian untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan, adat dan tradisi budaya. Hingga meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat lewat potensi yang ada. Termasuk mengubah mitos kawasan ini sebagai daerah yang angker menjadi daerah yang indah,” katanya.

Lihat juga...