Tanggul Pemecah Gelombang di Pantai Utara Flores Cegah Abrasi

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berharap masyarakat dan nelayan dapat memanfaatkan tanggul pemecah gelombang di pantai utara Flores semaksimal mungkin. Selain sebagai pelindung abrasi dan tempat berlindung nelayan dari badai, tanggul tersebut juga diharapkan bisa dimanfaatkan untuk objek wisata.

Kepala BPBD, Muhammad Daeng Bakir, mengatakan, tanggul pemecah gelombang (break water) di pantai utara Flores tersebut dibangun dengan anggaran dari pusat, guna mengatasi abrasi. Tanggul sepanjang 1.060 meter itu sudah selesai pembangunannya sejak Juli 2020.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, NTT, Muhammad Daeng Bakir, saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Rabu (23/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

“Pembangunan sudah dirampungkan, sehingga masyarakat yang tinggal di pesisir pantai bisa terlindungi dari abrasi,” kata Muhammad Daeng Bakir, saat ditemui Cendana News di kantornya di Kota Maumere, Rabu (23/12/2020).

Daeng Bakir menjelaskan, semula pihaknya mengajukan anggaran untuk pembangunan pemecah gelombang sepanjang 5 kilometer, namun akibat dampak pandemi Corona hanya disetujui 1 kilometer lebih.

Menurutnya, selain sebagai penahan ombak, adanya tanggul tersebut membuat perahu-perahu nelayan berukuran kecil bisa berlabuh di areal tersebut karena ada kolam labuh.

“Saat musim badai dan gelombang tinggi, banyak perahu nelayan yang mecari tempat berlindung. Pemecah gelombang ini dibangun sepanjang 30 meter dari pantai, agar ada ruang di tengahnya untuk kolam labuh bagi perahu nelayan,” ucapnya.

Lihat juga...