Terancam Punah, Sastra Lisan Wayang Timplong Direvitalisasi

SURABAYA — Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur melakukan revitalisasi sastra lisan pada pertunjukan seni Wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, karena terancam punah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Asrif menginformasikan kegiatan revitalisasi sastra digelar di Sanggar Rumah Ilalang, Dusun Karangnongko, Desa Kelautan, Kecamatan Ngronggot, Nganjuk, 1 – 3 Desember 2020.

“Ini merupakan rangkaian kegiatan revitalisasi sastra lisan berbasis komunitas yang digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima wartawan di Surabaya, Kamis malam (3/12/2020).

Ia mengemukakan banyak sastra yang perlu direvitalisasi, terutama yang terbingkai dalam tradisi lisan karena terancam punah. Salah satunya adalah Wayang Timplong, sebuah seni pertunjukan yang dikenal pada awal tahun 1900-an dan hanya ada di Bumi “Anjuk Ladang” Nganjuk.

Menurut Asrif, dalang Wayang Timplong yang eksis saat ini tidak banyak. “Pada 2018 tersisa 5 orang, tetapi pada 2020 hanya ada 2 orang saja,” ujarnya.

Manifestasi revitalisasi dilakukan dengan penulisan naskah drama di kalangan siswa, guru, mahasiswa, dan warga desa yang aktif di komunitas sastra atau sanggar. Hasil akhirnya adalah pentas teater.

Ketua panitia Mashuri menandaskan dalam upaya merevitalisasi itu ada beberapa narasumber dari kalangan praktisi, seniman, sastrawan, dan bahasawan yang dilibatkan, di antaranya Asrif dan Awaludin Rusiandi dari Balai Bahasa Jawa Timur.

Selain itu dari kalangan praktisi dan seniman, yaitu Dalang Ki Suyadi, Ketua Sanggar Rumah Ilalang Rego S Ilalang, Dramawan Agus Shigro Budiono;dan Ketua Pelangi Sastra Deny Mizhar.

“Masing-masing narasumber menyajikan materi sesuai keahliannya,” katanya

Dalam praktiknya, peserta sejumlah 50 orang dibagi dalam tiga kelompok. Mereka menyajikan tiga fragmen Cerita Panji dari Wayang Timplong.

Kelompok pertama didampingi oleh Rego S Ilalang menyajikan pentas teater dalam bahasa Jawa.

Kelompok kedua didampingi oleh Agus Shigro Budiono menyajikan pentas teater dengan lebih menekankan unsur gerak dan tarian.
Kelompok ketiga didampingi oleh Deny Mishar menyajikan pertunjukan dengan menonjolkan unsur teater murni.

“Saya kira model seperti ini dapat menjadi semacam acuan dalam sebuah perhelatan yang lebih besar. Menarik untuk dilanjutkan dalam temu komunitas sastra dengan garapan yang mengambil spirit dan menggali seni tradisi dan sastra yang terancam punah,” demikian Rego S. Ilalang. (Ant)

Lihat juga...