Tukang Jahit Sepeda, Tetap Bertahan di Era Milenial

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Di era milenial tukang jahit sepeda ternyata tetap ada dan mampu bertahan. Profesi unik di era milenial ini ternyata masih ada juga yang menekuni.

“Kita menyebutnya Komunitas Tukang Jahit Sepeda. Kebetulan semuanya berasal dari Garut, Jawa Barat. Semua juga tinggal dalam satu rumah kontrakan yang disewakan oleh bos kami dengan masing-masing diisi sekitar 10 orang. Kurang lebih sekitar 50 orang yang bekerja menjadi penjahit sepeda,” ucap Dede Rukmana (45 tahun), saat dijumpai Cendana News, Selasa (22/12/2020).

Dede Rukmana menceritakan, awal mula Komunitas Tukang Jahit Sepeda ini berlokasi di sepanjang Jalan Raya Ubin menuju Pasar Lenteng Agung. Menjadi menetap dan tidak berkeliling lagi dikarenakan keinginan sang bos untuk melihat persaingan bebas dan sehat di antara para tukang jahit.

Dede mengatakan, Komunitas Tukang Jahit sepeda ini sudah ada sejak tahun 2013, jumlah sebelumnya hanya 20 orang. Namun seiring waktu, jumlah tukang jahit dari Garut makin bertambah.

“Si bos yang menyediakan semuanya. Mulai dari gerobak sepeda, mesin jahit, hingga benang untuk modal awal kita. Setiap hari kita diwajibkan setor 20 ribu untuk bayar sewa gerobak dan mesin jahit. Namun jika benang habis sudah menjadi kewajiban kita untuk beli sendiri. Untuk harga benang jahit dengan warna komplet, semua warna yang dibutuhkan 13 lusin, kurang lebih seharga 600 ribu rupiah,” katanya lagi.

Dede mengungkapkan, Komunitas Tukang Jahit Sepeda ini buka setiap hari mulai pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore. Setiap hari dirinya jika beruntung bisa mendapatkan penghasilan sebesar 100 ribu rupiah, sedangkan jika sepi penghasilan yang didapat sekitar 30 ribu rupiah.

“Kita semua punya pelanggan masing-masing. Jadi tidak akan saling serobot atau saling sikut. Terlebih untuk harga kita sepakat standar sesuai dengan yang disepakati bersama. Tapi jika sama pelanggan masing-masing itu tergantung pribadi. Mau memberikan harga berapa,” katanya lagi.

Dirinya bersyukur, hasil dari menjahit dapat disisihkan untuk istri dan anak di kampung.

Hal senada juga disampaikan Sutisna (35 tahun). Menurutnya, untuk harga potong pakaian dikenakan biaya 25 ribu rupiah sedangkan untuk mengecilkan ukuran pakaian atau celana dikenakan biaya sebesar 30 ribu rupiah. Dikatakan Sutisna, dirinya sangat tertolong dengan adanya komunitas atau perkumpulan ini dikarenakan satu sama lain saling membantu.

“Kalau untuk pendapatan kita juga saling bantu. Semisal saya tidak ada pemasukan atau tidak ada yang jahit, teman sebelah kadang kasih pelanggan. Dan lebih enaknya lagi, kalau kita tidak bisa setor hari ini, bisa dibayar di hari selanjutnya,” ucapnya.

Sutisna menambahkan, di tempat mangkal tersebut, tidak dipungut biaya. Hanya saja dari pihak remaja yang mengurusi pasar, memberikan air mineral yang diganti dengan harga 5000 rupiah per botol.

“Bos jarang datang ke kontrakan. Paling seminggu sekali datangnya, nggak tentu harinya. Datang ya hanya ambil uang harian kita. Alhamdulillah kalau dibilang, buat kirim ke kampung selalu ada tiap bulannya. Walaupun tidak gede,” katanya lagi.

Lihat juga...