Umat Katolik di Lamsel Gelar Ziarah Makam Saat Natal

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Puluhan makam keluarga Kristiani di Lampung Selatan terlihat bertabur bunga. Harum semerbak bunga tabur, aroma wewangian dan doa yang didaraskan juga terdengar dilantunkan di area pemakaman itu.

Edi Gunawan, salah satu peziarah menyebut, ziarah dilakukan sebelum dan kala hari raya Natal tiba dan bagi umat Katolik tradisi itu tetap dilestarikan sebagai persatuan iman antara yang masih hidup dan telah tiada.

Jemaat stasi Santo Petrus dan Paulus tersebut mengaku tradisi ziarah menjadi warisan leluhurnya. Hari raya Natal menjadi waktu berkumpul bersama keluarga. Anggota keluarga yang telah tiada tetap mendapat perhatian dengan kiriman doa. Pemakaman di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan tempat anggota keluarga disemayamkan.

Ziarah, sebut Edi Gunawan, memiliki makna persekutuan dengan para kudus,arwah orang beriman. Tradisi itu mengajarkan anak-anak mengenal trah leluhurnya. Selain membersihkan pusara, mendoakan arwah anak-anak sebagai generasi muda diberi pemahaman urutan silsilah keluarga. Meski telah tiada, saat Natal keluarga jadi prioritas utama.

Edi Gunawan (kanan) mengajak anggota keluarga mengunjungi makam keluarga yang telah tiada bagian tradisi Natal, Jumat (25/12/2020). -Foto: Henk Widi

“Umat Katolik di stasi Santo Petrus dan Paulus Pasuruan dominan berasal dari Jawa, kentalnya tradisi kekeluargaan masih dipertahankan, termasuk ziarah kepada keluarga yang telah meninggal, persatuan erat itu tidak terputus juga dengan yang masih berjuang di dunia,” terang Edi Gunawan, saat ditemui Cendana News, Jumat (25/12/2020).

Edi Gunawan menyebut, saat ziarah ia membawa bunga tabur, lilin, dan minyak wangi. Tradisi membersihkan pusara dilanjutkan dengan doa bersama keluarga sesuai tradisi iman Katolik. Kesempatan ziarah baru bisa dilakukan tepat pada hari raya Natal. Sebab, sehari sebelumnya persiapan perayaan ibadah membuat ia menunda waktu ziarah.

Melakukan ziarah menjadi salah satu pesan Natal untuk peduli kepada sesama. Perhatian selama keluarga masih hidup di dunia hingga tiada tetap akan terjalin. Mendaraskan doa di makam keluarga, menjadi kesempatan untuk mengajarkan perjuangan keluarga. Warisan tradisi leluhur yang baik tersebut sekaligus menyatukan setiap anggota keluarga yang terpisah selama beberapa bulan.

“Sebagian anggota keluarga ada yang bekerja di luar daerah, pulang hanya saat Natal, jadi ziarah makam kami lakukan bersama,” cetusnya.

Perayaan ekaristi malam Natal, sebut Edi Gunawan, telah dilakukan pada Kamis (24/12/2020) malam. Meski dalam situasi pandemi Covid-19, semangat untuk menyambut kedatangan Juru Selamat tetap dilakukan dalam suasana keprihatinan. Keprihatinan tersebut menjadi refleksi menghadapi masa krisis sesuai kotbah Natal oleh pastor Petrus Tripomo saat malam Natal.

Tetap bisa melakukan ekaristi malam Natal, Edi Gunawan bilang usai ziarah makam ia masih akan melakukan tradisi kunjungan. Meski berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana ia tidak bisa mengunjungi setiap rumah, ia bisa memakai aplikasi perpesanan. Sebagian anggota keluarga, kerabat yang tidak pulang kampung masih bisa berkomunikasi via video call dan zoom.

Remiyati, salah satu anggota keluarga yang ikut ziarah, menyebut mengunjungi makam menjadi tradisi keluarganya. Meski berbeda keyakinan, ia menyebut ziarah dilakukan pada anggota keluarga yang di antaranya merupakan anak dan cucu. Tetap melakukan ziarah mengajarkan makna persaudaraan kepada generasi yang lebih muda.

“Sebagian anggota keluarga ada yang dimakamkan di area pemakaman muslim, jadi tetap kami kunjungi dan doakan,” terang Remiyati

Sebagai nenek dan buyut bagi puluhan cucu, Remiyati menyebut ziarah menjadi pengingat untuk tetap menjaga persaudaraan. Meski berbeda keyakinan, ia selalu menekankan kepada anak cucu dan buyutnya untuk tetap menjaga ikatan darah.

“Selain berdoa bagi anggota keluarga pada makam yang dikunjungi, doa juga didaraskan bagi keluarga di pemakaman lain yang tidak dikunjungi,” katanya.

Lihat juga...